Page 318 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 318
but status quo dengan menggunakan isu-isu yang telah lapuk,
tapi selalu mereka tiupkan sebagai bahaya laten. Sementara baha-
ya yang termanifes, seperti para birokrat warisan Orde Baru,
justru tidak pernah dilihat sebagai bahaya yang mengancam
kehidupan demokrasi dan HAM.
Kebijakan-kebijakan pendidikan umumnya juga sangat
diskriminatif, seperti perlakuan terhadap sekolah-sekolah swas-
ta, penerimaan siswa/mahasiswa baru yang didasarkan pada
ras dan agama, serta pengangkatan guru yang juga didasarkan
pada latar belakang ras dan agama. Memang, tidak ada kebijakan
tertulis dalam soal penerimaan siswa/mahasiswa baru di seko-
lah-sekolah/perguruan tinggi negeri. Tapi, kalau kita telisik latar
belakang ras dan agamanya, maka di sekolah-sekolah/PTN
negeri, orang yang beragama bukan Islam ada di kisaran angka
3 0 - 4 0 % (tergantung mayoritas agama yang dianut oleh pen-
duduk wilayah tersebut) dan yang beretnis Cina tak lebih dari
3%. Demikian pula, rekrutmen tenaga pengajar (dosen maupun
guru), karena didasarkan pada kesamaan agama dan ras, tidak
m e m b u k a kemungkinan lain yang lebih luas (kemampuan
intelegensi, integritas, kejujuran, dedikasi, dan sebagainya).
Bila kebijakan-kebijakannya saja diskriminatif dan para
pengambil kebijakannya berpikiran sempit serta kerdil, apa logis
bila kemudian kita menuntut pendidikan di negeri ini mampu
menghasilkan orang-orang yang tidak diskriminatif, solider,
toleran, dan mampu mencintai sesama?
Dalam hal ini, saya sependapat dengan uraian Zamroni,
bahwa hakikat kehidupan pluralistik bertumpu pada social repro-
duction. Artinya, apa yang dilaksanakan di dunia pendidikan
dewasa ini akan berbuah di masa mendatang. Kalau pendidikan
mengajarkan sikap sopan santun, kelak akan muncul sopan
santun. Kalau pendidikan mengajarkan korupsi, kelak akan mun-
cul generasi korup. Kalau pendidikan mengajarkan disiplin, kelak
akan muncul perilaku disiplin. Kalau pendidikan mengajarkan
manipulasi, kelak akan lahir generasi manipulator. Dan kalau

