Page 325 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 325

Yang   terjadi  di  sekolah-sekolah  swasta  besar  dan  terkenal
               pun demikian.   Di  sana ada sistem seleksi baik yang  menggunakan
               NEM   maupun    tes  kemampuan.   Tapi  di  balik  keduanya,  sesung-
               guhnya   terselip angka  rupiah  yang  dapat  dinegosiasikan  sebagai
               syarat  masuk. Sehingga,   bila  dalam suatu  proses  seleksi  terdapat
               beberapa  calon  murid  yang  memiliki  NEM   atau  hasil  tes lainnya
               sama,  maka   yang  diterima  adalah  mereka   yang   mampu    mem-
               bayar lebih  tinggi  kepada  sekolah  tersebut.  Di  sini, sekolah  telah
               menjadi  ladang bisnis bagi  pengelolanya atas  nama   kemanusiaan
               dan  bukan   lagi  sebagai  panggilan  sosial,  sebagaimana   dicita-
               citakan  sejak  awal  ketika  mendirikan   sekolah   tersebut.  Sama
               halnya  dengan  rumah   sakit  yang didirikan  katanya  untuk  meno-
               long  orang-orang  yang  sakit,  realitasnya,  rumah  sakit  itu  justru
               telah  melahirkan  penyakit  baru  melalui  mahalnya   biaya  dokter,
               biaya  obat,  dan biaya  perawatan lainnya.  Rumah sakit  telah  men-
                    t
                             e
               jadi ambang mas     untuk  memperoleh    keuntungan    besar dengan
               cara  memberikan    gaji  yang  rendah  kepada  perawat  dan  karya-
               wannya    dengan  di-rem-remi  (diberi  harapan  tentang  surga).


                    Sekolah-sekolah   dan  rumah   sakit-rumah   sakit  swasta  yang
               awalnya    didirikan   dengan   tujuan   sosial  kemanusiaan     itu,
               sekarang  mengalami    perkembangan     yang ama:   keduanya    telah
                                                            s
               meninggalkan    misi  awal  berdirinya.  Apalagi  di  era  otonomi  ini,
               mereka   semakin   mendapat   legitimasi  untuk  memberikan    beban
               lebih  banyak  kepada  masyarakat yang    menyerahkan    pendidikan
               atau  pelayanannya   di  sana.  Dengan alasan  tidak ada subsidi  lagi
               dari  pemerintah,  mereka   melakukan    pungutan-pungutan      yang
                                 c
               makin  besar dan enderung     tidak dibuat standarisasi.  Ada  orang
               yang   memiliki   kemampuan      lebih  besar  tapi  karena  pandai
               merayu   pengurus    yayasan,  membayar     lebih  kecil.  Sebaliknya,
               ada orang yang lebih   miskin  tapi  karena  tidak bisa  merayu,  mem-
               bayar  jauh  lebih  mahal.



               1.  Otokritik

                    Barangkali,  berangkat   dari  keprihatinannya  terhadap  nasib
               orang-orang miskin    yang selalu  menjadi  nyanyian  bagi  lembaga-



                                                                                 327
   320   321   322   323   324   325   326   327   328   329   330