Page 311 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 311

kupi  bangsa  Indonesia  selama  32  tahun  di  bawah  penguasa  Orde
              Baru  yang  amat  otoriter,  sehingga  tidak  memungkinkan     terja-
              minnya   hak-hak  sipil  maupun  politik  bagi  setiap warga.  Bahkan
              menjelang  akhir  masa  Orde Baru  ditandai  dengan  tindakan  yang
              tidak  beradab,  yaitu  menculik  atau  menghilangkan  nyawa   seba-
              gian  warga  atas  nama  stabilitas  keamanan.
                   Pergantian   rezim  yang   lebih  demokratis  telah  membuka
              wacana   baru  soal  H A M ,  sehingga  mulai  digulirkan  soal  hak-
              hak  ekonomi,  sosial,  budaya,  pendidikan,  dan  agama.   Namun,
              ini  tidak  berarti  persoalan  hak-hak  sipil  dan  politik  dianggap
              sudah  selesai.  Sebab,  pelanggaran   terhadap  hak-hak   sipil  dan
              politik  masih  tetap  terjadi  di  mana-mana,  terutama  di  daerah-
              daerah  konflik,  seperti  Aceh,  Poso,  Maluku,  dan  Papua.  Bahkan
              di  wilayah awa   pun  terjadi  pelanggaran,  tapi  dengan  memakai
                          J
              modus   yang  lebih  canggih,  yaitu  meminjam   tangan  orang   lain
              sehingga  seakan-akan   tindak  kriminal  biasa  dan  bukan  pelang-
              garan  HAM    yang  dilakukan   oleh  negara.

                   Terbukanya   ruang  baru  untuk membicarakan    masalah   HAM
              itu  juga  terjadi  dalam  dunia  pendidikan  nasional.  Selama  masa
              Orde  Baru,  terutama   sejak  Pelita  II,  bersamaan  dengan  diper-
              kenalkannya   pelajaran  PMP  (Pendidikan   Moral  Pancasila),  yang
              terjadi  di  lembaga  pendidikan    hanyalah   proses  indoktrinasi
              terhadap  nilai-nilai  yang  dikembangkan  oleh  penguasa.  Di  sana,
              tidak  ada  proses  dialogis  yang  memungkinkan    para  murid  ter-
              buka  wawasannya,     sekaligus  memahami     hak-hak   dasar  yang
              seharusnya   mereka  miliki,  baik sebagai  warga  negara  dari  suatu
                                                                     t
              bangsa  maupun    sebagai  seorang  anak  yang  sedang umbuh     dan
              berkembang.    Padahal,  sebagai  anak-anak   yang  sedang  tumbuh
              dan  berkembang,   para  pelajar  memerlukan   informasi  yang  leng-
              kap  dan  jelas  tentang  hak-hak  mereka,  sehingga   ketika  hadir
              sebagai  warga  dari  suatu  bangsa,  mereka  paham   akan  hak-hak
              dasar  maupun    kewajibannya.


                   Jika  kita  kembali  mengacu  pada  bunyi  Deklarasi  PBB,  maka
              dalam   Pasal  26  ayat  2  diamanatkan:   "Pendidikan  harus  diarahkan




              312
   306   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316