Page 335 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 335
Peluang terbesar kedua dimiliki oleh anak-anak miskin tapi
pintar. Pada waktu penerimaan berdasarkan DANEM, mereka
dengan mudah dapat masuk ke sekolah-sekolah negeri karena
NEM mereka cukup tinggi. Di sekolah-sekolah swasta favorit,
peluangnya terbatas karena sekolah tersebut menggunakan
sistem seleksi ganda, yaitu DANEM dan tes wawancara. Mereka
sering gugur pada waktu tes wawancara, karena tes wawancara
itu hanya merupakan bentuk kamuflase dari mekanisme menarik
biaya yang lebih besar.
Perubahan sistem penerimaan murid baru dari D A N E M
ke model tes seperti sekarang, sedikit menutup peluang kelom-
s
pok kedua ini di sekolah-sekolah negeri, terlebih sekolah wasta
favorit, karena kemampuan membayar uang gedung murid
sering lebih menentukan diterima-tidaknya seseorang sebagai
burid baru daripada hasil tes murni yang dicapai oleh calon
murid.
Peluang terluas ketiga untuk memperoleh akses pendidikan
yang baik dimiliki oleh anak-anak yang bodoh, tapi orang tuanya
kaya. Pada sistem penerimaan murid baru dengan model
DANEM, peluang mereka untuk masuk ke sekolah-sekolah nege-
ri memang terbatas karena sekolah-sekolah negeri pada umum-
nya hanya menggunakan sistem DANEM saja. Tapi untuk masuk
ke sekolah-sekolah swasta, termasuk yang favorit, cukup tinggi
karena tertolong oleh tes wawancara, yang di sana ada proses
tawar menawar soal kesanggupan biaya yang harus dibayarkan.
Permainan itu juga dapat dilakukan dengan pihak sekolah
asal atau sekolah sebelumnya sehingga DANEM si anak menjadi
tinggi. Sebagai contoh, orang tua murid kongkalikong dengan guru
Kelas VI SD atau Kelas III MP agar anaknya memperoleh DANEM
S
tinggi, sehingga dapat masuk ke sekolah negeri favorit. Per-
mainan semacam itu terjadi di banyak tempat di seluruh Indonesia.
Motivasinya juga bukan sekadar uang, tapi juga prestise. Sebab,
bila alumni dari sekolah itu banyak yang diterima di sekolah-
sekolah negeri, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para
338

