Page 339 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 339
kekecewaan sekaligus arena membangun kesadaran kolektif atas
ketidakadilan sosial di masyarakat. Sebab, di sekolah mereka
berinteraksi dengana sesama pelajar yang memiliki nasib sama
buruknya. Anak-anak yang memiliki nasib lebih baik sudah di-
kumpulkan tersendiri di sekolah-sekolah swasta dengan status
"Diakui". Sedangkan anak-anak yang memiliki nasib terbaik
dikumpulkan tersendiri di sekolah-sekolah negeri favorit mau-
pun sekolah-sekolah swasta dengan status "Disamakan".
Berbeda, misalnya, jika anak-anak miskin dan bodoh itu
dapat bersekolah di sekolah-sekolah negeri yang biayanya di-
tanggung oleh negara. Selain dari segi biaya mereka uga lebih
j
ringan, dari pola pergaulannya pun menjadi beragam: mereka
tidak hanya berinteraksi dengan sesama anak miskin dan bodoh,
tapi juga dengan anak yang mungkin kaya sekaligus pintar, anak
yang pintar tapi mungkin miskin, atau juga anak yang bodoh
tapi kaya.
Adanya interaksi yang intens antara anak-anak miskin dan
bodoh dengan sesama anak-anak dari ketiga lapisan sosial ter-
sebut dapat membuka wawasan mereka lebih berkembang,
relasi sosial lebih luas, dan sangat mungkin pula kelak mereka
dapat membangun kerja sama yang saling menguntungkan.
Sehingga, yang miskin dan bodoh dapat mengalami mobilisasi
vertikal, sedangkan yang kaya dan pinter bisa lebih peka dan
toleran terhadap yang miskin dan bodoh.
Tapi dengan mengkotakkan anak-anak miskin dan bodoh
ke dalam satu kotak tersendiri, yaitu masuk ke sekolah-sekolah
r j
pinggiran yang tidak bermutu, disiplin rendah, dan biayanya
realtif tinggi (karena mereka tanggung sendiri), maka sistem
pendidikan yang ada sebetulnya hanya semakin melanggengkan
ketidakadilan sosial yang ada di masyarakat sekaligus merusak
solidaritas sosial, karena anak-anak muda sudah dikelompokkan
sesuai dengan kelas sosialnya, sehingga mereka tidak memiliki
kesempatan untuk membangun relasi sosial yang lebih manusi-
awi dan berkeadilan. Sekolah justru mengelompokkan anak
342

