Page 341 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 341

payah   untuk  memperoleh     angkutan   umum    yang   mau   meng-
              angkut  mereka   dengan  ongkos   tarif  pelajar.  Sebab,  tarif  khusus
              bagi  pelajar  ternyata  tidak  menolong  mereka;  sebaliknya  justru
              menciptakan   beban   baru  bagi  mereka.

                   Akumulasi    kekecewaan    demi   kekecewaan    itu  kemudian
              memupuk     naluri  agresivitas  mereka,  yang   kemudian    dengan
              mudah   dapat  dipancing  untuk  tawuran.   Begitu  terkena  gesekan
              sedikit,  mereka  langsung   tawuran.  Dan   gesekan  yang  memicu
              timbulnya  tawuran  itu,  biasanya  terjadi  saat  para  pelajar  menung-
              gu  bus  kota  di  halte  yang  begitu  lama.  Dalam suasana  otak yang
                         j
              bunek  dan iwa  yang   frustasi  menunggu   angkutan   umum    yang
              mau  mengangkut,    mereka  mudah sekali   dipancing   untuk  tawur-
              an.  Dengan  kata  lain,  tawuran  pelajar  itu  tidak  memiliki  kaitan
              logis  dengan  tingkat  pemahaman      agama   mereka,   melainkan
              dengan  masalah   kemiskinan  dan  ketidakadilan  sosial  yang  mere-
              ka  rasakan,  baik  di  rumah  maupun  di  sekolah.

                   Kondisi  serupa   terjadi  pada  PTN  kita.  PTN  hanya  meng-
              akomodasi   anak-anak    pintar  sekaligus  kaya  serta  anak  bodoh
              tapi  kaya.  Anak-anak  pintar  tapi  miskin,  peluangnya  sekarang
              semakin   terbatas.  Apalagi  anak-anak  bodoh   dan  miskin,  tidak
              ada  ruang ama sekali   di  pendidikan  tinggi  di  Indonesia, apalagi
                         s
              PTN.  Perubahan   status  PTN menjadi  Badan  Hukum    Milik Negara
              (BHMN)    semakin   menutup    peluang  anak-anak   miskin  dan  bo-
              doh  untuk  memperoleh    akses  pendidikan   tinggi  karena  mereka
              dianggap   tidak  pantas  masuk  PT.  Padahal,  bagaimana  mungkin
              yang  miskin  dan  bodoh  ini  dapat  mengubah   nasibnya  sehingga
              keturunannya    bisa  kaya  dan  pintar,  bila  negara  tidak  pernah
              menyediakan    kesempatan    sedikit  pun  kepada  mereka?

                   Uraian  di  atas jelas,  bahwa  pendidikan  nasional, negeri  mau-
              pun  swasta,  dari  SD-PT,  hanya  menciptakan   kesenjangan   sosial
              sekaligus  kemiskinan   struktural.  Sebab,  anak-anak   bodoh   dan
              miskin  itu  setelah  lepas dari sekolah  hanya  bekerja sebagai  buruh
              pabrik,  buruh   bangunan,   buruh   tani,  buruh  serabutan,   atau
              pekerja  sektor  informal,  yang  pendapatannya   selain  kecil,  juga





              344
   336   337   338   339   340   341   342   343   344   345   346