Page 337 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 337

modal   dasarnya   m e m a n g  sangat  lemah,  tidak  memiliki  ke-
              m a m p u a n  untuk  mengerjakan  soal  dengan   baik,  juga  tidak
                              t
              memiliki  daya awar    berdasarkan   kemampuan     membayar    biaya
              sekolah  yang  tinggi,  sehingga  tidak  tersedia  ruang  bagi  mereka,
              baik  di  sekolah-sekolah   negeri  maupun    swasta   yang   bagus.
              Dalam  kondisi  yang  serba  terpaksa  itu,  tak  ada  pilihan  lain  bagi
              mereka   kecuali  hanya   di  sekolah-sekolah   swasta  kecil,  yang
              lokasinya  di  pinggiran  kota  atau  pelosok  pedesaan,  yang  pra-
              sarana  dan  sarananya   minim,   mutunya   jelek,  disiplinnya  ren-
              dah,  dan  biayanya  relatif  tinggi  menurut  ukuran  mereka  karena
              ditanggung    penuh   oleh  murid.  Pemerintah    justru  cenderung
              menghindari     memberikan     bantuan   kepada    sekolah-sekolah
              semacam   itu.  Kalaupun ada, umlahnya     kecil  dibanding  sekolah-
                                            j
              sekolah  yang  lebih  besar  atau  mapan.   Pemerintah   lebih  suka
              membantu    sekolah-sekolah   yang  sudah   mapan   daripada   mem-
              bantu  sekolah-sekolah   yang  miskin  dan   di  pinggiran  tersebut,
              karena  dapat  diklaim  sebagai  hasil  kinerja  mereka.

                   Sebetulnya,   mereka    menjadi   miskin   dan  bodoh    bukan
              semata-mata    kesalahan   mereka   sendiri,  tapi  karena  struktur
              sosial  yang  sejak  awal  tidak  adil,  sehingga  tidak  memberikan
              ruang  kepada   kelompok   miskin  ini  untuk  melakukan   mobilitas
              horizontal  maupun    vertikal.  Kelompok   miskin   dan  bodoh   itu
              akhirnya   terjebak   pada   lingkaran   setan   (kemiskinannya).
              Celakanya,  pendidikan   yang seharusnya   membuat    manusia  lebih
              berkemanusiaan    dan   berkeadilan,  justru  semakin  melegitimasi
              dan  bahkan   menyuburkan      ketidakadilan    tersebut,  terutama
                                 j                                    '
              melalui  pilihan-pilihan  mencari  pasangan  hidup. Sebagai contoh,
              seseorang  yang  berpendidikan   S2  cenderung   mencari   pasangan
              hidup  yang   berpendidikan    setara,  atau  paling  tidak  S I .  Sese-
              orang yang berijasah SI  cenderung  mencari  pasangan   hidup  mini-
              mal  Diploma,   syukur  bisa  di  atasnya.  Lulusan  SMTA   mencari
              pasangan   hidup   sesama   lulusan  S M T A  atau  minimal  SMTP.
              Sedangkan    bagi  lulusan  SMP  ke  bawah   (termasuk   yang  tidak
              bersekolah),  tidak  tersedia  pilihan  lain  kecuali  sesama  yang
              berpendidikan   S M P  atau  SD  atau  bahkan  buta  huruf.
   332   333   334   335   336   337   338   339   340   341   342