Page 171 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 171
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
Mengingat belajar di Ponpes sangat menarik hatinya, akhirnya
setelah lulus SD, tahun 1993 dia meneruskan Madrasah Tsanaw-
iyah Negeri Pasir Ipis di Ponpes Miftahul Falah, Surade, Cira-
cap, Sukabumi. Di sanalah dasar-dasar membaca kitab kuning
dipelajari. Meski saat itu belum tahu manfaat menghafalkan
nazom-nazom ilmu nahwu, kitab al-‘imrithi, yaqulu, amsitatu
al-tashrifiyah, dan lain sebagainya. Hal yang tidak terlupakan
bagi Daden adalah saat Kiai Makmur, pengasuh pesantren, mem-
bangunkan untuk sholat subuh. Kiai hanya melafalkan “qum!”
(bangun), para santri sudah langsung bangun semua, meski tidak
langsung ke tempat wudhu.
Setelah merampungkan MTs, Daden masih berkeinginan kuat
untuk melanjutkan pendidikannya. Namun kondisi ekonomi
tidak mendukung. Padahal, saat itu Daden sudah diterima di
SMA 3 favorit di Sukabumi. Tetapi karena tidak ada biaya daftar
ulang, akhirnya tidak jadi. Daden menangis sesegukan, hatinya
terhantam, terlebih ketikag Umi menimpali, “Umi bilang juga
apa, kita tidak punya”. Namun itulah Daden, ia tidak putus hara-
pan, dia tetap membangun optimis dan tetap minta doa ke umin-
ya agar diberik jalan oleh Allah.
Tak berselang lama, datang Bapak Oyib, gurunya di MTs yang
mengetahui bakat kecerdasannya. Daden disarankan untuk per-
gi ke Ponpes Al-Masthuriyah dan bersekolah di sana. Saran itu
diikuti tanpa banyak pertimbangan, dan saat itulah dia memulai
petualangan baru.
Orangtua Kedua
Ponpes Al-Masthuriyah yang saat itu pengasuhnya Kiai Abdul
Aziz Masthuro menerima Daden dengan penuh keikhlasan. Bagi
Daden, Kiai Abdul Aziz adalah orangtua kedua yang sangat
| 157

