Page 170 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 170
Daden Sukendar | Aktifis Sosial dari Pesantren
Ketika duduk di kelas empat SD, selain menggembala kambing
sepulang sekolah, Daden juga sering disuruh membantu ibun-
ya sebelum berangkat sekolah. Baginya, memenuhi permintaan
Umi, panggilan untuk ibunya, ada kenyamanan tersendiri bagi
hatinya. Kambing yang dipelihara pun terus beranak-pinak.
Saat masuk kelas lima SD, kambing yang dipelihara dijual un-
tuk dibelikan sapi untuk dipelihara lagi. Karena orangtua berasal
dari keluarga tani, Daden kecil mulai diajak sang ayah untuk
ikut membajak sawah.
Ada kisah yang cukup berkesan dialami Daden. Seusai sholat
subuh, dia diajak membajak sawah oleh sang ayah. Saat itu ia
diminta untuk membantu pada proses ngegaru, yakni proses
penghalusan, atau akhir dari beberapa proses membajak sawah.
Karena masih baru dan belum cukup menguasai, ia terlempar
sampai ke depan mesin. Meski demikian, Daden tidak lantas
berhenti membantu ayahnya di sawah. Justru pengalaman itu
yang membuat ia bahagia bekerja bersama ayahnya.
Memulai Hidup di Pondok Pesantren
Pondok Pesantren bukanlah hal baru bagi Daden Sukendar. Se-
jak SD dia sudah mulai mengenal dunia pesantren dengan ikut
menjadi santri kalong Ponpes Al-Ikhlas di desanya. Santri ka-
long adalah santri yang hanya ikut dalam pengajian di pesantren,
namun tidurnya masih di rumah. Pengajian yang diikuti Daden
yakni setelah sholat subuh dan selepas sholat maghrib yang dia-
suh paman sendiri. Meski demikian, perlakuan kiainya ke Daden
sama dengan santri lainnya. Jika ia melanggar aturan pesantren,
dia juga mendapat takziran juga. Misalnya saat Daden nonton
layar tancep bersama santri lainnya, maka dia tidak diperboleh-
kan masuk rumah kecuali menghafal surat-surat pendek.
| 156

