Page 217 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 217
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
Musiri agar dijemput pulang karena dia sedang sakit. Tak lama
kemudian, Kyai Musiri datang ke Pesantren Genggong dan me-
nemui Kyai Nurudin. Bukannya membawa oleh-oleh, Kyai Mu-
siri justeru membawa kain kafan dan memberikannya ke Kyai
Nurudin, sambil berkata, “Cong, iyak kaen kafanna. Be’en mate
neng ponduk, dulat engkok cong; be’en mate nyare elmu.
Gun sake’ de’iye moleya. Dinah lah tak usah moleh. Mon tem-
mon neng akhirat bei lah.” (Nak, ini kain kafannya. Kamu mati di
pondok, saya justru bersyukur; kamu mati dalam mencari ilmu.
Baru sakit seperti ini kamu sudah pengen pulang. Sudahlah, ti-
dak usah pulang. Kita ketemu di akhirat saja.)
Didikan paling keras dirasakan Hafidz saat istrinya hamil anak
pertama. Ia mengaku, ketika menikah setelah pulang dari Ya-
man, tidak diberi uang sepeserpun oleh kedua orang tuanya. Pa-
dahal dia belum bekerja. Itulah sebabnya dia menghadap ayahn-
ya untuk pinjam uang guna membuat usaha koperasi. Bukannya
dikasih pinjaman, justeru Hafidz dimarahi habis-habisan.
“Be’en jiyah, reng toa maloloh. Engko’ ngabi’ berempa mamon-
duk be’en. Neng Lirboyo berempa tahun, neng Yaman berempa
tahon. Epakabin, mare egebeyegi bengkoh, mare emelliagi mo-
tor. Engko’ tak andi’ tanggung jawab ke be’en sateyah.” (Kamu
ini kok ke orang tua terus.
Saya habis berapa memondokkan kamu? Di Lirboyo berapa ta-
hun? Di Yaman berapa tahun? Dinikahkan, dibikinkan rumah,
dibelikan sepeda motor. Saya tidak punya tanggung jawab lagi
terhadap kamu sekarang.)
Hafidz dalam hati bilang, “bheh mak de’iyeh tang eppak reya...”
(Lho, kok begini bapak saya ini...)
| 203

