Page 212 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 212

Hafidzul Hakim Noer |  Menggerakkan Pemuda Melalui Shalawat



            Menginjak umur 10 tahun, Hafidz dipindah ke Pesantren Lir-
            boyo Kediri Jawa Timur. Pesantren ini adalah salah satu pesant-
            ren salaf yang hanya mengajarkan kitab kuning pada santri-san-
            trinya. Di sini Hafidz betul-betul mendalami kitab kuning, mulai
            dari kitab-kitab dasar hingga kitab-kitab yang berat; mulai dari
            kitab yang tipis-tipis hingga kitab-kitab yang tebal. Selama sem-
            bilan tahun (1996-2005), ia mempelajari khazanah keilmuan Is-
            lam dari sumbernya langsung, yakni kitab kuning.


            Itulah  sebabnya,  begitu  tamat  Aliyah,  Hafidz  merasa  cukup
            matang secara intelektual. Karena itu, dia ingin melanjutkan
            kuliah ke perguruan tinggi. Sebagaimana pemuda pada umum-
            nya, dia ingin merasakan suasana baru setelah sekian lama hid-
            up dari pesantren ke pesantren. Namun, lagi-lagi, ayahnya tidak
            memberikan izin.

            “Jangan!  Kamu  ke  luar  negeri  saja.  Karena,  semakin  banyak
            negara yang kamu kunjungi, kamu akan semakin bijak memaha-
            mi kehidupan,” ujar Kyai Nurudin.

            “Akhirnya, saya mau ke luar negeri, tapi untuk kuliah. Kalau ti-
            dak ke Mesir, ke Syiria, Maroko, atau Libanon. Waktu itu masih
            aman semua,” kenang Hafidz.


            Ternyata Hafidz hanya diberi dua pilihan: Mekkah atau Yaman.
            Ia tidak tertarik untuk memilih dua-duanya. Karena, kalau dia
            memilih salah satu dari keduanya, berarti dia harus  mondok
            lagi.


            “Kalau ke Yaman atau ke Mekkah, saya biayai. Kalau enggak, ya
            sudah kamu cari biaya sendiri,” ujarnya menirukan sang ayah.
            Akhirnya,  Hafidz  tidak  memilih  keduanya.  Dia  lebih  memi-



            | 198
   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216   217