Page 215 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 215
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
huruf ini, mengandung ini, berhubungan dengan ini, dan seter-
usnya. Hukum baca bismillah, ada lima, ini ini ini. Wah asyik,
neh. Saya menemukan hal-hal baru yang tidak pernah dibahas di
pesantren-pesantren sebelumnya,” tutur Hafidz.
Hafidz pun mengikuti setiap kegiatan dengan tekun. Tiga tahun
dilalui tanpa terasa. Begitu pulang ke Pesantren Nurul Qadim
tahun 2009, banyak situasi berubah.
Syubbanul Muslimin yang awalnya sudah berjalan dengan
baik ternyata mulai tersendat-sendat setelah ditinggal ke Ya-
man. Merasa mendapat ilmu yang lebih dari cukup di Yaman,
ia bertekad untuk menghidupkan kembali Syubbanul Muslimin.
“Saya sudah merasa matang waktu itu. Bahasa kasarnya, saya
merasa sudah mengisi amunisi yang full di Yaman. Syubbanul
Muslimin saya konsep lagi. Saya terapkan konsep dari guru saya
di Yaman, al-Habib Umar, bahwa dakwah itu butuh tiga hal; per-
tama ta’rif, buatlah orang kenal sama kamu.
Kedua, ta’lif; buat orang cinta sama kamu. Ketiga, baru taklif,
paksa mereka, doktrin mereka. Jangan buru-buru ke taklif kalau
belum ta’rif dan ta’lif,” jelas Hafidz. Tidak heran jika Syubbanul
Muslim maju pesat setelah Hafidz kembali pegang kendali.
Pedang yang Tajam
Hafidz adalah pribadi yang sederhana tapi gaul, hangat, dan ber-
sahabat. Di luar kegiatannya di Syubban, ia mengajar di ma-
drasah Pesantren Nurul Qadim, di samping memberi pengajian
kitab Tafsir Jalalain setiap subuh. Kegiatan lainnya adalah mem-
beri pengajian atau ceramah di berbagai kegiatan masyarakat.
Kegiatan ini bahkan termasuk yang paling padat. Pada bulan-bu-
| 201

