Page 213 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 213
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
lih untuk membangun komunitas pemuda yang diberi nama
Syubbanul Muslimin. Sebuah majlis yang kelak melambung-
kan namanya di kalangan anak-anak muda Probolinggo. Seta-
hun kemudian, dia menyerah pada pilihan ayahnya. Sementara
Syubbanul Muslimin diserahkan kepada kakaknya, Abdul Hadi
Noer.
Hafidz pun sudah menentukan pilihan: ke Yaman. Dalam bayan-
gannya, Yaman adalah negara maju karena sering menjadi topik
pembicaraan dalam masalah keilmuan Islam. Itulah sebabnya
dia berangkat ke Yaman dengan sangat percaya diri. Tujuan ke
Yaman sudah ditentukan ayahnya, yakni Ribath Tarim, sema-
cam pesantren yang berada di kota Tarim di Provinsi Hadram-
aut, Yaman Selatan.
Ketika mendarat di bandara Yaman, Hafidz kaget melihat ban-
dara yang jika dibandingkan dengan bandara Juanda Surabaya,
jauh lebih bagus bandara Surabaya. Semangat belajar yang awal-
nya cukup menggebu-gebu jadi mentah lagi. Dalam hati Hafidz
bergumam sedih, “Ma’ ekerem de’ enna’ bi’ Abah...” (Saya kok
dikirim ke sini oleh Abah...).”
Suasana hati Hafidz semakin memburuk ketika sepanjang per-
jalanan dari bandara ke kota Tarim. Tidak ada pepohonan yang
dijumpainya, hanya ada tebing dan padang pasir. Demikian juga
ketika masuk ke Ribath Tarim, seolah-olah semuanya tembok.
Tidak boleh ini, tidak boleh itu, banyak sekali peraturan yang
harus ditaati.
Semua yang masuk ke Ribath Tarim ditanya satu per satu, per-
nah belajar apa saja? “Saya bilang, Fathul Qorib, Fathul Muin,
Minhaj, Alfiyah, Maknun, semuanya sudah saya pelajari,” jawab
Hafidz dengan nada agak sombong. Semua nama-nama kitab
| 199

