Page 210 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 210
Hafidzul Hakim Noer | Menggerakkan Pemuda Melalui Shalawat
orang pun dibayar. Mulai dari tukang pasang panggung, mesin
pengeras suara, tukang parkir, hingga penceramah yang kadang-
kadang dihadirkan saat kegiatan, termasuk Hafidz sendiri. Bah-
kan lahan parkir yang diatur dan dijaga oleh belasan pemuda,
juga gratis.
Menurut Hafidz, ini memang disengaja untuk menumbuhkan
solidaritas dan kerelawanan di kalangan pemuda. Nilai-nilai
seperti ini mulai luntur di kalangan pemuda, karena itu penting
ditumbuhkan dan diperkuat kembali. Solidaritas dan kerelawa-
nan ini juga diwujudkan dalam membantu jamaah yang sedang
kesulitan. “Alhamdulillah, kita bisa membantu, tentu sesuai
dengan kemampuan kita,” kata Hafidz.
Jumlah jamaah yang begitu besar tentu membutuhkan tanggung
jawab yang besar. Itulah sebabnya, ketika pelaksanaan kegiatan,
berbagai antisipasi sudah disiapkan oleh tim.
“Kita dua kali menghadapi musibah, yaitu ada jamaah yang
meninggal saat acara berlangsung. Yang satu tabrakan; dan sa-
tunya lagi sakit. Tapi karena solidaritas dan kerelawanan sudah
terbentuk, semua kita urus. Kita tidak lepas tangan. Sekecil apa
pun kita bantu, sesuai dengan kemampuan kita,” kata Hafidz.
Solidaritas dan kerelawanan ini sudah dipraktikkan sendiri oleh
Hafidz. Pada masa-masa awal, Syubbanul Muslimin betul-betul
berangkat dari nol, tidak punya apa-apa. “Mau beli terbang saja
gak punya uang,” kenang Hafidz.
Memang ada sumbangan dari jamaah, tapi jumlahnya tidak ban-
yak. Di samping itu, sebagian besar jamaah bukan orang mam-
pu. “Minta sumbangan ke jamaah, tidak bisa terlalu sering. Se-
tahun cukup sekali saja minta sumbangan. Jangan menyusahkan
umat,” tuturnya.
| 196

