Page 163 - Perempuan Dalam Gerakan Kebangsaan
P. 163
Dra. Triana Wulandari, M.SI., dkk. (eds.)
mewakili Sekutu untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan
tawanan, tidak akan mencampuri soal politik.
Dengan berkedok sebagai tentara Inggris, tentara Belanda
melaku-kan penembakan-penembakan dan pembunuhan terhadap
rakyat Indonesia. Tawanan bekas KNIL (Koninklijke Nederlands —
Indische Leger) dipergunakan kembali oleh Belanda untuk
melakukan terornya menghadapi rakyat Indonesia. Kekerasan
dibalas dengan kekerasan. Pertempuran timbul di mana-mana. Bukan
hanya melawan Belanda dengan KNIL-nya, tetapi juga melawan
tentara Inggris dengan Ghurka-nya.
Pertempuran yang paling dahsyat terjadi pada tanggal 10
Nopember 1945, ketika seluruh rakyat terutama para pemuda di
Surabaya menolak ultimatum Jenderal Mansergh dari tentara Sekutu
untuk menyerahkan semua senjata. Awal pecahnya pertempuran ini
sekarang dikenal sebagai Hari Pahlawan. Para pemuda dan pemudi
benar-benar bahu-membahu sepanjang medan perjuangan.
Pemerintah Indonesia selalu mengusahakan taktik diplomasi
(jalan perundingan) dalam menyelesaikan sengketa-sengketanya
dengan Se-kutu. Perundingan dan pertempuran silih berganti.
Dalam persetujuan Linggarjati Belanda Mengakui kekuasaan de
facto Republik Indonesia atas Jawa, Madura dan Sumatera. Pada
tanggal 21 Juli 1947 terjadi Clash ke-I, yang oleh Belanda disebut
Aksi Polisional ke-I (kemudian kita kenal sebagai Perang
Kemerdekaan ke-I). Sementara itu keadaan politik dan ekonomi
dalam negeri yang makin memburuk dipersulit lagi dengan
meletusnya pemberontakan Madiun oleh PKI - Muso pada tanggal
18 September 1948.
Pada tanggal 19 Desember 1948, tentara Belanda menyerbu
Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia dan menangkap
pimpinan Negara. Agresi ini merupakan perang kemerdekaan ke-II
(Clash ke-II), yang oleh Belanda disebut Aksi Polisional ke-II.
131
131

