Page 270 - Perempuan Dalam Gerakan Kebangsaan
P. 270

Perempuan dalam Gerakan Kebangsaan
                                       Perempuan  dalam  Gerakan Kebangsaan
               dijalankan terhadap pemimpin-pemimpin organisasi perempuan
               terutama yang anti komunis.

                   Selama masa 1961-1965, pergerakan perempuan lebih
               diarahkan menjadi “alat revolusi”. Kongres Wanita Indonesia ke-
               XII tahun 1961 mendukung adanya Front Nasional sebagai Badan
               Perjuangan Rakyat Indonesia serta minta diikutsertakan dalam Front
               Nasional sebagai karyawan perempuan. Pada awal tahun 1962,
               Kongres Wanita Indonesia menjadi anggota Front Nasional.
               Selanjutnya setiap pengerahan masa oleh Front Nasional selalu
               diserahkan kepada Kongres Wanita Indonesia. Usaha pembentukan
               barisan-barisan Sukarelawati (Sukwati). khususnya dalam cangka
               melaksanakan “DWIKORA” (Dwi Komando Rakyat) untuk
               mengganyang Malaysia sangat digiatkan.
                   Pada Kongres Wanita Indonesia tahun 1964 di Jakarta,
               KOWANI telah mengukuhkan pemberian gelar “Pembimbing Agung
               Gerakan Wanita Revolusioner Indonesia” kepada Presiden
               Soekarno. Selain itu juga mengeluarkan pernyataan yang mendukung
               perjuangan rakyat negara-negara NEFOS. Nama KOWANI yang
               sempat tidak boleh digunakan sejak putusan forum Permusyawaratan
               Wanita Seluruh Indonesia di Yogyakarta itu akhirnya dapat
               dipergunakan lagi.

                   Kalau pada Kongres tahun 1961 masih dikeluarkan de-sakan
               dan tuntutan agar Pemermtah segera mengeluarkan Undang-Undang
               Perkawinan, tidak demikian pada kongres yang diselenggarakan pada
               tahun 1964. Pada kongres di tahun 1964 yang berlangsung di Jakarta
               ini masalah tersebut sudah tidak disinggung-singgung lagi. Dalam
               kenyataan, perjuangan pergerakan perempuan Indonesia untuk
               mempertinggi derajat perempuan justru menjadi kabur, karena
               merosotnya penghargaan terhadap perempuan yang dilakukan oleh
               pemimpin negara. Seolah-olah perempuan dianggap merupakan
               barang pameran dan hiasan saja. Dalam penyambutan pembesar-



                                            238
                                             238
   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275