Page 269 - Perempuan Dalam Gerakan Kebangsaan
P. 269

Dra. Triana Wulandari, M.SI., dkk. (eds.)

                (Tentara Nasional Indonesia). PKI dan ormas-ormasnya dapat
                dengan aman melakukan intimidasi dan teror politik terhadap pihak
                dan tokoh yang dianggap lawan serta anti Nasakom, dengan tuduhan.
                Kontra Revolusi/Anti Bung Karno/Agen Nekolim (Neo Kolonialisme),
                dan lain-lain. Doktrin PKI: “Politik adalah Panglima”.

                     Dalam masa Demokrasi Terpimpin, semua hal diatur Pemerintah
                sampai pada kreasi-kreasi seni dan selera hiburan. Jaminan dan
                perlindungan hukum tidak ada, banyak orang ditangkap tanpa diadili.
                Proyek-proyek mercu suar dibangun. Politik luar negeri menganut
                poros Jakarta - Peking, sehingga mempersempit ruang gerak RI di
                forum internasional dan memasukkan Indonesia dalam strategi
                politik RRC (Republik Rakyat China). Timbul gagasan “NEFOS”
                (New Emerging Forces) sebagai tandingan “OLDEFOS” (Old,
                Established Forces) yang mencapai puncaknya dengan Indonesia
                keluar dari PBB pada tanggal 1 Januari 1965.
                     Untuk membendung kekuasaan Komunis, maka di bawah
                pengaruh Angkatan Bersenjata (ABRI) pada tanggal 20 Oktober 1964
                dibentuk “Sekretariat Bersama Golongan Karya” (SEKBER
                GOLKAR) yang menjadi anggota Front Nasional. Badan ini terdiri
                dari golongan fungsional dan profesi yang tidak tergabung dalam
                partai-partai politik; antara lain terdiri dari ABRI, Sarekat-Sarekat
                Sekerja, Organisasi Pemuda dan Organisasi Wanita.

                     Suasana “ketegangan” sudah mulai mempengaruhi pergerakan
                perempuan sejak Gerwani berhasil duduk dalam Pimpinan Kongres
                Wanita Indonesia pada tahun 1957. Pengaruh Gerwani menjadi
                tambah besar, sejak struktur Pimpinan Kongres Wanita Indonesia
                dirubah pada Kongres ke-XII tahun 1961 di Jakarta. Pimpinan
                Kongres Wanita Indonesia yang semula merupakan Sekretariat kini
                berubah menjadi Dewan Pimpinan yang terdiri dari 9 orang wakil
                organisasi yang akan memimpin secara bergilir dengan didampingi
                oleh seorang Ketua Kordinator. Intimidasi dan tekanan mulai


                                             237
                                             237
   264   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274