Page 304 - Perempuan Dalam Gerakan Kebangsaan
P. 304
Perempuan dalam Gerakan Kebangsaan
Perempuan dalam Gerakan Kebangsaan
REPELITA ke-I dan bertekad untuk mensukseskan pembangunan
melalui akselerasi modernisasi dengan mengikutsertakan seluruh
rakyat. Suasana pembangunan membawa perubahan-perubahan
secara cepat dan menuntut pula partisipasi kaum perempuan secara
lebih mantap dan terarah. Menjelang diselenggarakannya Kongres
KOWANI ke-XVI timbul pemikiran di kalangan sejumlah organisasi-
organisasi anggota KOWANI, agar KOWANI menyusun Program
Kerja yang terarah. Untuk melaksanakan program kerja itu perlu
pimpinan yang kesinam-bungannya tidak terputus dan oleh karena
itu perlu ditetapkan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.
Pemikiran tersebut diterima dalam Kongres KOWANI ke-XVI yang
berlangsung dari tanggal 15 sampai dengan 18 Mei 1974 di Jakarta.
Dalam Kongres itu dipilih 11 anggota Dewan Pimpinan, termasuk
Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal yang juga mempunyai
wewenang eksekutif. Dalam sistem ini tidak lagi diadakan Majelis
Permusyawaratan setiap 4 atau 5 bulan untuk mengukuhkan Ketua
Periodik, tetapi sidang Majelis Permusyawaratan diadakan jika
dianggap perlu dalam menyusun kebijaksanaan yang prinsipal.
Suatu perkembangan yang menggembirakan adalah meningkatnya
kegiatan di kalangan perempuan yang disalurkan melalui sarana
organisasi perempuan dan yayasan. Peningkatan kegiatan itu dapat
pula kita saksikan pada BKS DHARMA PERTIWI yang dibentuk
pada tahun 1964 dan sejak tahun 1966 bernaung di bawah pembinaan
HANKAM ABRI. Kemudian pada tahun 1972 berubah menjadi
“DHARMA PERTIWI”. Kegiatan kekaryaan DHARMA PERTIWI
.
dilakukan melalui berbagai forum, seperti MPR, DPR, DPRD Tingkat
I dan Tingkat II, GOLKAR, KOWANI, BPOW/BKOW, Musyawarah
Perguruan Swasta, GOPTKI dan KNKWI.
Organisasi-organisasi perempuan Islam pada tanggal 2 Juli 1967
mendirikan “Badan Musyawarah Organisasi-organisasi Perempuan
Islam Indonesia” (BMOPII) yang kemudian pada tanggal 11 Mei 1969
272
272

