Page 303 - Perempuan Dalam Gerakan Kebangsaan
P. 303
Dra. Triana Wulandari, M.SI., dkk. (eds.)
serta memberi rekomendasi-rekomendasi atas dasar penelitian dan
data tersebut. Keanggotaan KNKWI terdiri dari unsur Pemerintah,
pergerakan perempuan dan ahli-ahli perorangan. Dan unsur
pergerakan perempuan yang pada waktu itu aktif dalam pembentukan
KNKWI adalah KOWANI, Koordinasi Wanita Sekber Golkar dan
KAWI. Untuk pertama kali KNKWI memilih pengurus yang sifatnya
suatu presidium terdiri dari unsur pergerakan perempuan dan
Pemerintah pada tanggal 16 Desember 1968.
Dengan masuknya kembali Indonesia sebagai anggota
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terbuka lagi kesempatan untuk
menempatkan wakil Indonesia dalam United Nations Commission
on the Status of Women. Melalui KNKWI diusulkan kepada
Pemerintah agar wakil Indonesia dalam Komisi tersebut diambil dari
unsur pergerakan perempuan. Hal ini berhasil dengan ditunjuknya
Drg. Ny. Yetty Rizali Noor (tahun 1971-1974) dan Ny. Suwarni Saljo,
S.H. (tahun 1974-1978) untuk mewakili Indonesia dalam United
Nations Commission on the status of Women. Sebelumnya yang
ditunjuk untuk mewakili Indonesia dalam Komisi tersebut adalah
perempuan pejabat tinggi, antara lain Nn. Laili Rusad, S.H. dan Ny.
Artati Marzuki, sedangkan Ny. Rusiah Sarjono, SH dan Nn. Endang
’
Sulbi, S.H. (Ny. Suska) selain pejabat tinggi juga mendapat dukungan
dari KOWANI.
Sebagai salah satu acara dalam memperingati “Empat Puluh
tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia” oleh KOWANI
diselenggarakan simposium “Reevaluasi Pergerakan Wanita
Indonesia” pada tanggal 29 dan 30 Januari 1969 di Jakarta, dengan
mengundang peserta dari kalangan luas.
Sistem Ketua Periodik dalam struktur pimpinan KOWANI tetap
dipertahankan pada Kongres KOWANI ke-XV yang diselenggarakan
pada tanggal 18 sampai dengan 20 Pebruari 1970 di Jakarta.
Sementara itu Pemerintah Orde Baru telah mulai melaksanakan
271
271

