Page 11 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 11
SEJARAH BENCANA GEMPA DI SUMATERA 11
tentang apa itu gempa bumi dan mengapa adanya kemarahan roh-roh halus penjaga
gempa dan peristiwa alam lainnya dapat lingkungan alam sekitar terhadap penduduk
terjadi dan dapat membawa bencana bagi penghuni setempat yang mungkin kurang
manusia. Mereka hanya dapat mencoba peduli kepada mereka. Oleh karena
menafsirkan segala gejala alam semesta itu, solusinya, perlu dilakukan upacara
yang terjadi di lingkungan sekitarnya melalui penyerahan sesaji sesuai dengan yang apa
alam pikiran yang berbasis pada pandangan dikehendaki oleh para roh penjaga alam
mistis, magis, fokloris, supranatural dan tersebut (Tarling, 1992: 508-509).
irasional sesuai dengan pandangan dan Mirip dengan apa yang disebutkan
strategi budaya masyarakat dan zamannya diatas, Historiografi Jawa tradisional yang
(Van Peursen, 2000: 30-50). merupakan salah satu sumber lokal sejarah
Sebagai contoh, nenek moyang orang Jawa juga menyajikan fakta-fakta historis
Indian-penduduk asli Amerika, percaya mengenai bencana yang dibungkus dengan
bahwa yang menjadi penyebab gempa bumi cara pandang dunia mistis, religis-magis,
adalah binatang kura-kura, sementara nenek- dan kosmologis-kosmogonis. Salah satunya
moyang orang Mongolia mempercayai sebagaimana yang tercermin dalam Babad
binatang katak sebagai penyepabnya, karena Tanah Djawi (Ng. Kertapradja, 1987). Untuk
kedua binatang itu dipercayai sebagai memahami fakta dan data yang terkandung
penggendong bumi, maka ketika kedua di dalamnya diperlukan kemampuan untuk
binatang tersebut bergerak-gerak karena menafsirkan makna dibalik simbol atau tanda
sesuatu hal, maka akibatnya bumi menjadi dan pertanda serta lambang yang termuat
ikut bergoyang. Tidak berbeda dengan dalam teks secara tepat dan arif (Kertapradja,
orang Indian dan Mongolia, nenek-moyang 1987). Sebagai contoh, dikemukakan tentang
orang Afrika Selatan juga percaya bahwa adanya pralaya atau maha pralaya pada masa
binatang sapi merupakan binatang yang ketika kerajaan Mataram Kuna pindah ke
dipercaya menjadi penyebab gempa, karena Jawa Timur yaitu sekitar abad ke-10. Diduga
menurut keparcayaan mereka, bumi diyakini istilah atau perlambang tersebut memuat
terletak diujung tanduk sapi, sehingga rawan makna tentang terjadinya bencana alam yang
tergoyang apabila sapinya banyak berulah patut diduga menjadi penyebab peristiwa
bergerak kesana-kemari. Berbeda dengan perpindahan dan pergantian kekuasaan
ketiga bangsa tersebut, orang Yunani kuna kerajaan pada masa itu (IDAS I, 2012: 190).
percaya bahwa yang menjadi sebab gempa Sumber sejarah lokal juga mengemukakan
adalah Poseidon yang menjadi pemegang peristiwa lain misalnya pada tahun 1672
bumi sehingga tangan Poseidon lah yang ketika Gunung Merapi di Jawa Tengah
menentukan nasib bumi (Don dan Leet, disebutkan meletus yang diikuti dengan
1964: 31-33). terjadinya gempa dan turunnya hujan lebat
Sementara itu sebagian nenek moyang di luar musim. Peristiwa tersebut terjadi pada
bangsa Indonsia yang ada di sebagian saat Sunan Amangkurat I yang sudah berusia
daerah, memberi tafsiran terjadinya bencana lanjut sedang menderita sakit, sementara
gempa bumi, gunung meletus, epidemi, kerajaan Mataram tengah menghadapi
serta bencana alam lainnya sebagai pertanda krisis, diiringi dengan datangnya bencana

