Page 12 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 12

12                   KEARIFAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA GEMPA BUMI DI SUMATERA


              kelaparan serta epidemi. Tanda-tanda gempa   Indonesia mempunyai sejarah yang cukup
              dan gunung meletus tersebut dimaknai   panjang dan rumit. Menurut kajian tersebut,
              sebagai isyarat bagi terjadinya disintegrasi   Indonesia memiliki unsur-unsur geologi
              kerajaan Mataram pada masa itu (Ricklefs,   atau  unsur geodinamika  yang  rumit dan
              2001; 96).                            tidak stabil. Disebutkan bahwa unsur-unsur
                 Baru pada masa kemudian yaitu pada   geodinamika tersebut sangat berperan
              abad ke-19 ketika manusia mulai memasuki   dalam pembentukan kepulauan dan wilayah
              zaman modern, mulai muncul pemahaman   maritim Indonesia. Unsur geodinamika yang
              secara rasional dan ilmiah bahwa gempabumi   dimaksud terletak pada keberadaan kerak
              dan  bencana  alam  lainnya  pada  dasarnya   benua dan kerak samudra yang bergerak
              merupakan bagian dari gejala alam yang   secara dinamis yang disebut sebagai
              disebabkan oleh faktor-faktor alam yang   kegiatan tektonis. Pergerakan tektonis
              dapat diketahui dan dijelaskan melalui kajian   tersebut melibatkan interaksi pergerakan
              ilmiah. Perkembangan tersebut didorong oleh   tiga lempeng yang disebut Lempeng Indo-
              lahirnya ilmu yang mempelajari gempa bumi   Australia di selatan, Lempeng Eurasia di
              sebagai obyek kajian seismografi. Berdasar   utara, dan Lempeng Pasifik di timur. Sebagai
              hasil penyelidikan kajian ilmiah pada masa itu,   akibat pergerakan interaktif atas lempeng-
              mulai ditemukan penjelasan bahwa gempa   lempeng tersebut, wilayah Indonesia
              bumi merupakan suatu getaran bumi. Getaran   menjadi sangat aktif dan sangat labil
              bumi yang sangat kuat dan berlangsung lama   secara tektonis. Kegiatan tektonis tersebut
              dapat menyebabkan kehancuran kehidupan   juga menyebabkan terjadinya cekungan-
              manusia dan lingkungan sekitarnya (Don &   cekungan sedimentasi laut maupun darat.
              Leet, 1964: 36-47).                   Dijelaskan lebih lanjut dalam IDAS (2012)
                                                    bahwa pada masa Paleozoik, keadaan
              ASAL-USUL TERBENTUKNYA KEPULAUAN      geografi Indonesia belum terbentuk seperti
              INDONESIA                             sekarang ini. Wilayah Indonesia pada masa
              Kajian ilmu Paleogeografis dan Paleogeologis   itu masih merupakan bagian dari Samudera
              telah memberikan pemahaman mengenai   yang disebut Tehtys. Samudera ini disebutkan
              mengapa Pulau Sumatera dan pulau-pulau   sangat luas, bahkan meliputi hampir seluruh
              lain di kepulauan Indonesia menjadi salah   bumi. Kemudian pada periode berikutnya,
              satu wilayah yang banyak terjadi bencana   pada masa Mesozoik sekitar 65 juta tahun
              gempa bumi, tsunami dan letusan gunung   yang lalu telah terjadi kegiatan tektonik
              berapi serta bencana alam lainnya. Pulau   berupa pergerakan lempeng-lempeng
              Sumatera dan pulau-pulau di Indonesia   Indo-Australia,  Eurasia  dan  Pasifik,  yang
              merupakan kepulauan yang berada di    disebut sebagai “fase tektonis”.  Aktivitas
              wilayah tektonik dan vulkanik. Menurut   tersebut telah menyebabkan terpecah-
              IDAS (2012), wilayah Indonesia merupakan   pecahnya Benua Eurasia menjadi pulau-
              kepulauan besar yang terdiri dari 17,508   pulau yang terpisah satu dengan yang
              pulau terletak di antara dua benua, yaitu Asia   lainnya. Sebagian pecahan-pecahan tersebut
              di utara dan Australia di selatan. Berdasar   bergerak ke selatan dan membentuk pulau
              kajian Paleogeografi, pembentukan pulau di   Sumatera,  Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17