Page 90 - Sun Flower Full Naskah
P. 90

selamatan kita lebih penting.”
                 “So-Ra…  Saat Bunda  disandera  dulu,  dia  memintaku
          untuk tidak melibatkan polisi.”
                 Mobil yang  dikemudikan So-Ra masih berjalan pelan,
          mobil di belakang mereka pun mengikuti. So-Ra terdiam menga-
          khiri perdebatan kecilnya dengan Hae-Seol. Sahabatnya benar,
          dan bukankah Bunda sangat baik pada mereka? Masa mereka
          tega menyeret nama Bunda ke kantor polisi. Iya, mereka mun-
          gkin tidak akan melakukan itu, namun jika mereka tetap meng-
          hubungi polisi justru penjahat-penjahat itu yang akan menyebut
          nama Bunda. So-Ra tak ingin itu terjadi. Ia setuju pada pendapat
          Hae-Seol. Ia menginjak gas, ngebut dan mencari lokasi yang ti-
          dak akan melibatkan warga dan jauh dari kantor polisi.
                 Mobil mereka bahkan belum benar-benar berhenti, tapi
          ada orang yang mengetuk pintu mobil dengan kasar. Hae-Seol
          dan So-Ra keluar. Belum sempat mereka memulai pembicaraan,
          salah satu dari enam orang pria berbadan besar itu melabuhkan
          tinjunya ke wajah Hae-Seol, namun berhasil ditangkis.
                 “Orang seperti mereka mainannya otot, bukan otak,”
          kata So-Ra setengah berbisik pada Hae-Seol. Hae-Seol harus
          berkelahi lagi, So-Ra bahkan sudah terlihat siap dengan posisin-
          ya.
                 “Enam orang lelaki melawan dua orang gadis? Memalu-
          kan!”
                 Hae-Seol mengenal suara itu. Park Kyung-Shin.  Ia
          datang. So-Ra yang berdiri di  sebelah Hae-Seol  pun terlihat
          mengembuskan napas  beratnya. Seperti di  dongeng saja  keti-
          ka sang pangeran menyelamatkan  seorang putri, pikir So-Ra.
          Nanti saja ia berpikir begitu, mereka bahkan belum mengalah-
          kan enam algojo di hadapan mereka. Oh tidak! Lihat itu! Park
          Kyung-Shin menangkis serangan dan membalas dengan tendan-
          gan. Lalu pukulan.
                 “So-Ra!!!”
                 Hae-Seol berhasil menghalangi  pukulan  yang  diarah-
          kan pada So-Ra. Ia selalu waspada kalau saja salah satu atau bisa
          jadi ke enam orang itu membawa pistol. Iya, Hae-Seol yakin. Na-
          mun, sepertinya niat mereka bukan ingin membunuh. Mereka

                                     84
   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94   95