Page 225 - Gagasan Inovasi Pendidikan Volume 1
P. 225
Inspiring Lecture Paragon
pemberian teori-teori untuk memperbanyak mahasiswa secara
kuantitas tanpa berupaya mengevaluasi dan menganalisa seberapa
banyak produk pendidikannya yang terserap dalam dunia
kerja.(Fairweather, 1988)
Berdasarkan beberapa problematika dalam pendidikan tinggi
tersebut menunjukkan adanya gap antara das sein dan das Sollen
(antara kenyataan dan harapan). Sehingga pendidikan tinggi sudah
saatnya melakukan evaluasi dan mencari alternatif solusi. Salah satu
upaya yang dapat dilakukan, diantaranya dengan melakukan
pengembangan kurikulum berbasis kewirausahaan.
Secara spesifik Prodi PGMI menerapkan pendidikan
entrepreneurship didasarkan pada alasan berikut:
Pertama, Prodi PGMI harus selalu responsif terhadap
kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Dalam konteks ini
kurikulum pendidikan harus bergerak cepat dan dinamis untuk
merespon perkembangan masyarakat. Selain itu, telah banyak efek
positif pada beberapa perguruan tinggi yang telah menerapkan
pendidikan kewirausahaan dalam kehidupan yang lebih luas.
Sehingga, diperlukan pengembangan kurikulum yang ideal sesuai
dengan kebutuhan masyarakat secara umum.(Ipmafa Pati, 2017)
Kedua, untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan
(entrepreneurship) dan meningkatkan aktivitas kewirausahaan agar
para lulusan perguruan tinggi lebih menjadi pencipta lapangan kerja.
Keberhasilan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) dapat
menjadikan para sarjana yang merupakan kelompok penduduk usia
produktif mampu bersikap mandiri dengan menciptakan pekerjaan
213

