Page 300 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 300
(decision support). Inisiatif yang tergolong ke dalam domain ini adalah
master data, data warehouse, dan dashboard.
6. Kanal Akses (Access Channel) merupakan kumpulan teknologi kanal
(channel) yang berfungsi untuk mendukung pertukaran data dan
informasi yang dimiliki oleh KPU dengan para pemangku kepentingan
lainnya. Sesuai dengan fungsinya tersebut, maka access channel perlu
menerapkan keamanan informasi yang handal sebagai upaya preventif
untuk pengaksesan data secara illegal. Selain itu, perlu diatur hak akses
untuk pengguna agar pengaksesan informasi sesuai dengan tanggung
jawab dan perannya. Beberapa teknologi yang dikategorikan kedalam
access channel adalah Portal/Website, Open Data, Helpdesk, dan Call
Center.
Penggunaan teknologi informasi dalam proses Pemilu adalah sebuah
keniscayaan. Rangkaian aktivitas Pemilu mulai dari, pembentukan daerah
pemilihan, alokasi kursi, sistem pemilihan, syarat pencalonan, ambang
batas pencalonan (parlimentary threshold dan presidential threshold),
pemutakhiran data pemilih, dan pemungutan suara, adalah persoalan pelik
dan rumit (shopisticated). Di sana ada urusan bagaimana konversi suara
menjadi kursi benar-benar adil dan proporsional merepresentasikan jumlah
penduduk di satu wilayah, dan bagaimana aneka kepentingan yang
berkelindan baik antar Calon, pemilih, dan publik, terkelola dengan baik.
Pemilu membutuhkan teknokrasi untuk menerjemahkan hal ihwal yang
rumit (shopisticated) itu ke dalam instrumen dan prosedur teknis
penyelenggaraan Pemilu yang sederhana, aplikatif, dan berkeadilan.
Namun penggunaan teknologi informasi dalam proses dan infrastruktur
kepemiluan tentu bukan hendak menjadikan proses pemilu semata-mata
menjadi sekadar praktik teknokratis. Bagaimanapun esensi Pemilu adalah
memastikan kemurnian kedaulatan rakyat benar-benar terwujud dalam
proses Pemilu. Hal ini perlu ditegaskan karena masih mengakarnya
pandangan yang menilai proses Pemilu hanyalah sebatas instrumen
partisipasi rakyat memberi suara dalam kontestasi perebutan kursi
kekuasaan secara periodik (Schumpetarian), bukan komitmen membangun
nilai dan praktik politik baru sebagai antitesa politik lama yang manipulatif
dan koruptif. Pemilu diselenggarakan sekadar bagaimana mengelola teknis
administratif tiga aktivitas utama Pemilu yakni, kontestasi, partisipasi, dan
konversi (suara menjadi kursi). Tak heran bila yang dikedepankan adalah
284 BAB 6 – MANAJEMEN PENYELENGGARA PEMILU

