Page 301 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 301

rasionalitas teknokratis yaitu, bagaimana menemukan cara yang efektif dan
                 efisien supaya aktivitas utama Pemilu terselenggara dengan baik, damai,
                 cepat,  dan  mendapatkan  legitimasi  publik.  Sukses  tidaknya  Pemilu  pun
                 diukur  bukan  pada  sejauhmana  perubahan  dan  kebajikan  politik  telah
                 tumbuh tetapi pada sejauhmana tata kelola teknis administratif kontestasi,
                 partisipasi, dan konversi telah dilaksanakan secara independen, profesional,
                 dan berintegritas. Untuk itu, regulasi Pemilu tak jarang dikonstruksi sarat
                 dengan norma-norma teknis, dan institusi penyelenggara pun difungsikan
                 hanya  sebagai  teknisi  atau  “tukang”  eksekusi  regulasi.  Dalam  konteks
                 Indonesia,  penggunaan  teknologi  informasi  dalam  proses  Pemilu  bukan
                 dalam  rangka  mendegradasi  pemilu  menjadi  pemilu  teknokratis.
                 Penggunaan teknologi informasi harus dirancang untuk dua tujuan simultan
                 yakni  sebagai  upaya  memudahkan  pelaksanaan  Pemilu  dan  memastikan
                 kemurnian  suara  rakyat  dalam  seluruh  proses  dan  tahapan  pemilu
                                 14
                 (Silitonga, 2017).

              G. Penutup


                 Manajemen  penyelenggaraan  Pemilu  memegang  peranan penting  dalam
                 memastikan aturan-aturan kepemiluan dan pilkada dapat diaplikasikan dan
                 diimplementasikan  di  lapangan  dengan  tepat.  Sebagai  lembaga
                 penyelenggara yang diamanatkan UU Pemilu untuk melaksanakan praktik
                 konversi  suara  menjadi  kursi,  yang  tentu  rumit  dan  kompleks  dan  sarat
                 dengan  pengaruh  atau  intervensi  politik  dari  para  peserta  pemilu  dan
                 penguasa, KPU harus memastikan manajemen penyelenggaraan pemilu dan
                 pilkada telah memenuhi prinsip-prinsip manajemen pemilu modern yaitu
                 perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian.


                 Tak  cukup  hanya  memenuhi  prinsip-prinsip  manajemen  modern,
                 manajemen  pemilu  juga  harus  semakin  inovatif  menggunakan  teknologi
                 dan  informasi  dalam  mengoptimalkan  infrastruktur  tahapan  pemilu
                 semakin  transparan,  aksesibel  dan  akuntabel.  Dengan  demikian  dalam
                 tahapan-tahapan  penyelenggaraan  pemilu  dan  pilkada,  pemilih  dan
                 masyarakat  luas  dapat  terlibat  secara  aktif  dan  kritis  dan  pada  akhirnya
                 dapat  meningkatkan  partisipasi  pemilih  secara  kwantitatif  maupun


              14    https://www.indonesiana.id/read/111891/repolitisasi-pemilu-2019#yHWOB9kZFZ9GRDkb.41
                 (diakses pada tanggal 22 Agustus 2019 )
                                                BAB 6 – MANAJEMEN PENYELENGGARA PEMILU     285
   296   297   298   299   300   301   302   303   304   305   306