Page 307 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 307

dipilih akan dikenakan sanksi. Kerangka hukum harus memastikan adanya
                 larangan-larangan dan  sanksi-sanksi  terhadap  siapa  saja  yang  melanggar
                 larangan-larangan tersebut (Topo Santoso 2006).


                 Istilah “kerangka hukum pemilu” mengacu pada semua undang-undang dan
                 dokumen hukum yang terkait dengan pemilu. Dalam rezim demokratis dan
                 konstitusional, kerangka hukum pemilu ini diatur dalam aturan yang cukup
                 beragam,  berasal dari  norma dasar  seperti  konstitusi  dan aturan hukum
                 lainnya  (ACE  Project  2012).  Beberapa  ketentuan  yang  mendasari  adalah
                 konstitusi, perjanjian internasional, undang-undang pemilu, yurisprudensi,
                 peraturan kode etik dan peraturan terkait lainnya. Kerangka hukum pemilu
                 ini disusun dengan mempertimbangkan sejarah, kekhasan sosial, budaya
                 dan aturan hukum yang berlaku di masing-masing negara. Kerangka hukum
                 ini harus disusun secara terstruktur dengan melingkupi beberapa prinsip,
                 yakni  tidak  bermakna  ganda  dan  jelas  (clear),  memudahkan
                 (straightforward),  mudah  dipahami  (intelligible),  dan  melingkupi  seluruh
                 unsur  sistem  pemilu  yang  diperlukan  untuk  memastikan  pemilu  yang
                 demokratis (include all electoral components, which are necessary to ensure
                 the undertaking of democratic elections) (ACE Project 2012).


                 Kerangka  hukum  pemilu  juga  harus  melingkupi  mekanisme  yang  efektif
                 untuk memastikan berjalannya penegakan hukum pemilu dan penegakan
                 hak-hak sipil. Penegakan hak sipil dimaksud adalah untuk melindungi hak-
                 hak warga negara untuk memilih dan dipilih. Prinsipnya, kerangka hukum
                 harus  menetapkan  bahwa  setiap  pemilih,  Calon,  dan  Parpol  berhak
                 mengadu  kepada  lembaga  penyelenggara  pemilu  atau  pengadilan  yang
                 berwenang apabila terdapat dugaan pelanggaran atas hak pilih. Undang-
                 undang  pemilu  harus  membuat  aturan  yang  memerintahkan  lembaga
                 penyelenggara  pemilu  atau  pengadilan  yang  berwenang  untuk  segera
                 memberikan keputusan guna mencegah hilangnya hak pilih pihak korban.
                 Ruang banding bagi para pihak mesti disediakan. Kerangka hukum harus
                 menetapkan  waktu  yang  dibutuhkan  untuk  mengajukan  keberatan  dan
                 banding  hingga  waktu  bagi  otoritas  penyelesai  sengketa  untuk
                 mempertimbangkan  dan  memutuskan  suatu  pengaduan.  Klasifikasi
                 terhadap  permasalahan  hukum  tertentu  memungkinkan  diselesaikannya
                 dalam waktu yang berbeda tergantung dari urgensi suatu persoalan, bisa
                 dengan segera, beberapa jam atau beberapa hari. Namun semua itu harus
                 ditetapkan dengan kriteria yang jelas.

                              BAB 7 – PENEGAKAN HUKUM DAN PENYELESAIAN SENGKETA PEMILU     291
   302   303   304   305   306   307   308   309   310   311   312