Page 501 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 501

(Fraksi PAN), dan dua fraksi yang menyatakan menolak persetujuan RUU Ciptaker menjadi UU
              (Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi PKS).
              Setelah  itu,  pemerintah  memberikan  pandangannya  terkait  dengan  draf  akhir  RUU  Ciptaker
              sebelum  diambil  keputusan.  Dalam  penjelasannya,  Ketua  Badan  Legislasi  (Baleg)  DPR  RI
              Supratman  Andi  Agtas  mengatakan  bahwa  Baleg  bersama  Pemerintah  dan  DPD  RI  telah
              melaksanakan rapat sebanyak 64 kali terdiri atas dua kali rapat kerja, 56 kali Rapat Panja, dan
              6 kali Rapat Tim Perumus/Tim Penyusun (Timus/Timsin).

              "RUU  Ciptaker  hasil  pembahasan  terdiri  atas  15  bab  dan  185  pasal  yang  berarti  mengalami
              perubahan dari sebelumnya 15 bab dan 174 pasal," ujarnya.

              Terkait pengesahan RUU Cipta Kerja, itu, Konfederasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negara
              (KSP BUMN) segera mengajukan gugatan "judicial review" di Mahkamah Konstitusi.

              Uji  Materi    Sementara  itu,  Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)  Ida  Fauziyah  mengklaim
              penyusunan kluster ketenagakerjaan di UU Cipta Kerja telah memperhatikan putusan Mahkamah
              Konstitusi terhadap uji materi UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

              ''Kemudian, ketentuan mengenai sanksi ketenagakerjaan dikembalikan kepada UU No 13 Tahun
              2003, ini perlu saya sampaikan prinsip umum,'' kata Menaker Ida dalam pernyataan di Jakarta
              pada Selasa (6/10).

              Menurut Menaker Ida, UU Cipta Kerja tetap mengatur syarat-syarat dan perlindungan hak bagi
              pekerja PKWT yang menjadi dasar dalam penyusunan perjanjian kerja.

              Selain  itu,  UU  Cipta  Kerja  yang  sudah  disahkan  DPR  pada  Senin  (5/10)  itu  juga  mengatur
              perlindungan tambahan berupa kompensasi kepada pekerja pada saat berakhirnya PKWT.

              ''Jadi,  yang  baru  adalah  ada  perlindungan  bagi  pekerja  pada  saat  berakhirnya  PKWT,  yang
              sebelumnya di UU No 13 Tahun 2003 tidak ada perlindungan seperti ini," kata Ida.

              Dia  mengatakan  syarat-syarat  dan  perlindungan  hak  bagi  pekerja  dalam  kegiatan  alih  daya
              (outsourcing)  tetap  dipertahankan.  Bahkan,  Cipta  Kerja  memasukkan  prinsip  pengalihan
              perlindungan  hak-hak  bagi  pekerja  apabila  terjadi  pergantian  perusahaan  alih  daya,  sesuai
              dengan amanat putusan Mahkamah Konstitusi No.27/PUU-IX/2011.

              Terkait pengawasan terhadap perusahaan alih daya, Cipta Kerja juga mengatur syarat-syarat
              perizinan  terhadap  Perusahaan  Alih  Daya  yang  terintegrasi  dalam  sistem  Online  Single
              Submission (OSS).

              Terkait  ketentuan  waktu  kerja  dan  istirahat,  kata  Ida,  tetap  diatur  seperti  undang-undang
              sebelumnya  dan  menambah  ketentuan  baru  mengenai  pengaturan  waktu  kerja  dan  waktu
              istirahat pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu.

              "Hal ini untuk mengakomodasi tuntutan perlindungan pekerja pada bentuk-bentuk hubungan
              kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi digital saat ini berkembang secara dinamis," tutur
              Ida.

              Dia memastikan UU Cipta Kerja tetap mengatur hak-hak dan perlindungan upah bagi pekerja
              sebagaimana  peraturan  perundang-undangan  eksisting,  yaitu  UU  No.13  Tahun  2003  dan  PP
              No.78 Tahun 2015 dan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah yang baru.

              Ida  memastikan  bahwa  ketentuan  mengenai  Upah  Minimum  Kabupaten/Kota  tetap
              dipertahankan. Dengan adanya kejelasan dalam konsep penetapan upah minimum dimaksud,
              Cipta Kerja menghapus ketentuan mengenai penangguhan pembayaran upah minimum.


                                                           500
   496   497   498   499   500   501   502   503   504   505   506