Page 503 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 503

"Tidak boleh aksi sampai ke Senayan, hanya di kawasan saja. Aksi ini rencananya hingga pukul
              18.00 WIB pada 6-8 Oktober 2020," katanya.
              Aksi penolakan terhadap Omnibus Law dilakukan massa dengan memasang spanduk di setiap
              perusahaan serta berkeliling menggunakan empat unit mobil komando.

              Massa menyuarakan penolakan terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja. Mereka meminta agar
              tetap ada Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) tanpa syarat dan tidak menghilangkan Upah
              Minimum  Sektoral,  nilai  pesangon  tidak  berkurang,  tidak  boleh  ada  Perjanjian  Kerja  Waktu
              Tertentu  (PKWT)  atau  karyawan  kontrak  seumur  hidup  serta  tidak  boleh  ada  "outsourcing"
              seumur hidup.

              Tidak hanya itu para buruh menyerukan agar waktu kerja tidak boleh eksploitatif, cuti dan hak
              upah atas cuti tidak boleh hilang, karyawan kontrak dan "outsourcing" harus mendapat jaminan
              kesehatan dan pensiun.

              Sedangkan  di  Bandung,  Jawa  Barat,  aksi  buruh  yang  menolak  pengesahan  UU  Cipta  Kerja
              dilakukan  di  kawasan  Kecamatan  Rancaekek  sekira  pukul  10.00  WIB,  Selasa.  Ketua  SPPB
              Bandung Raya, Slamet Priatno mengatakan bahwa aksinya turun ke jalan itu merupakan bentuk
              secara tegas menolak UU Cipta Kerja yang sudah disahkan DPR dan pemerintah.

              "Kita turun untuk membatalkan keseluruhan Undang-undang (Omnibus Law) itu," kata Slamet
              di lokasi.

              Ratusan buruh itu melakukan aksi long march mulai dari kawasan Rancaekek, hingga ke arah
              Gerbang Tol Cileunyi. Akibatnya, pengendara jalan sempat tersendat oleh aksi long march itu.

              Pengusaha  Tersenyum    Jika  buruh  kecewa,  lain  halnya  dengan  pengusaha.  Dunia  usaha
              menyambut baik dan memberikan apresiasi kepada pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat
              (DPR) yang telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja menjadi undang-
              undang (UU) melalui Rapat Paripurna DPR, Senin (5/10/2020), karena akan mendorong ekonomi
              dan investasi.

              Ketua  Umum  Kamar  Dagang  dan  Industri  (Kadin)  Indonesia  Rosan  P  Roeslani  dalam
              keterangannya  di  Jakarta,  Selasa,  mengatakan UU  Cipta  Kerja  diharapkan  dapat  mendorong
              perekonomian dan investasi melalui penciptaan dan perluasan lapangan kerja.

              ''UU tersebut mampu menjawab dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang menghambat
              peningkatan investasi dan membuka lapangan kerja, melalui penyederhanaan sistem birokrasi
              dan  perizinan,  kemudahan  bagi  pelaku  usaha  terutama  UMKM,  ekosistem  investasi  yang
              kondusif,  hingga  tercipta  lapangan  kerja  yang  semakin  besar  untuk  menjawab  kebutuhan
              angkatan kerja yang terus bertambah," kata Rosan.

              Rosan menuturkan pandemi COVID-19 berdampak luas tidak hanya pada kesehatan, namun
              juga pada ekonomi, termasuk penyediaan lapangan kerja.

              Saat ini, banyak orang yang kehilangan pekerjaan atau banyak pekerja yang bekerja menjadi
              paruh waktu. Diharapkan dengan banyaknya investasi yang masuk, lapangan pekerjaan akan
              semakin terbuka dan meluas.

              "Kejadian pandemi COVID-19 memberikan dampak kontraksi perekonomian dan dunia usaha
              yang  sangat  signifikan,  RUU  Cipta  Kerja  menjadi  penting  dan  diperlukan  untuk  mendukung
              pertumbuhan ekonomi melalui program pemulihan dan transformasi ekonomi," katanya.

              Menurut Rosan, dengan adanya dinamika perubahan ekonomi global memerlukan respons cepat
              dan tepat. Tanpa reformasi struktural, pertumbuhan ekonomi akan tetap melambat.

                                                           502
   498   499   500   501   502   503   504   505   506   507   508