Page 534 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 534

namun  tidak  berarti  hal-hal  tentang  hak  yang  sudah  diatur  dalam  konstitusi  itu  harus
              dihilangkan," pungkasnya.
              DPR RI telah meresmikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja menjadi
              Undang-Undang  (UU)  pada  Senin,  5  Oktober  2020  kemarin.  Pengesahan  tersebut  diwarnai
              berbagai penolakan dari kaum buruh, yang menilai kehadiran aturan baru ini bakal semakin
              mengecilkan posisi tenaga kerja di Tanah Air.

              Ketua Badan Legislatif (Baleg) DPR Supratman Andi Agtas justru menganggap, UU Cipta Kerja
              dapat menghadirkan kemudahan bagi pihak pekerja maupun pemberi kerja mulai dari tingkat
              UMKM hingga korporasi besar.

              "itu memberi kepastian bagi kedua belah pihak, buruh dan pengusaha," kata Supratman kepada
              Selasa (6/10/2020).

              Bertolak belakang dengan pernyataan tersebut, Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Pekerja
              (KSP)  BUMN  Achmad  Yunus  menilai,  ada  beberapa  pasal  di  RUU  Cipta  Kerja  yang  bakal
              memberatkan para buruh dan pekerja.

              Ketidakjelasan ini semakin menguat lantaran kelompok serikat pekerja yang dibawahinya saat
              ini belum mendapatkan lampiran sah aturan baru tersebut.

              "Cluster ketenagakerjaan  memberikan  ketidakpastian  hukum,  banyak  catatan  dan saya tidak
              hapal  betul  pasal-pasalnya,  karena  sedang  tidak  pegang  dokumennya,"  ujar  Yunus  kepada
              Secara  garis  besar,  KSP  BUMN  disebutnya  sepakat  dengan  kelompok  buruh/pekerja  lainnya,
              bahwa  UU  Cipta  Kerja  bakal  melemahkan  posisi  tenaga  kerja,  dan  justru  memperkuat
              perusahaan pemberi kerja.

              "Intinya, kami sependapat dengan organisasi yamg lain bahwa disahkannya RUU ini menjadi UU
              mengkonfirmasi bahwa demokrasi kita dibangun dari, untuk dan oleh kapitalisme," tegasnya.

              Kepala  Badan  Kebijakan  Fiskal  Kementerian  Keuangan  (Kemenkeu),  Febrio  Nathan  Kacaribu
              menyebut Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja secara keseluruhan didominasi terkait
              dengan masalah perizinan.

              Dengan disahkannya Undang-Undang ini pun pemerintah telah memangkas seluruh perizinan
              untuk membangun usaha.

              "Nah  itu  sebenernya  yang  mendominasi  Omnibus  Law  Cipta  Kerja  ini.  Di  mana  kita
              menyederhanakan proses untuk membangun usaha. Untuk memulai start up," kata dia dalam
              diskusi FMB di Jakarta, Selasa (6/10/2020).

              Pemerintah tak ingin, generasi milenial yang memiliki ide, menghasilkan produk dan membuat
              perusahaan rintisan atau start up, dan membuka lapangan kerja baru bagi orang lain, tetapi sulit
              untuk mengurusi izin.

              "Ini problem pertama dari Omnibus Law Cipta Kerja ini. Bahwa memang karut marut perizinan
              yang harus diluruskan, benerin," kata dia.

              Kemudian di dalam UU Cipta Kerja juga memuat mengenai masalah pajak. Menurutnya masalah
              pajak masoh menjadi sorotan dan paling jelek di mata EODB. Itu tidak terlepas dari sulitnya
              birokrasi yang dilakukan pemerintah.

              "Orang mau bayar pajak kok masih merasa sulit. Itu kan aneh persepsinya. Kita pengennya
              orang-orang  bayar  pajak  sesimpel  mungkin,  sepreditable  mungkin.  Inilah  kemudian  dibuat
              semakin banyak kepastian dalam konteks ini, yang juga di Omnibus Law ini," jelas dia. Dwi Aditya
              Putra  Merdeka.com.
                                                           533
   529   530   531   532   533   534   535   536   537   538   539