Page 601 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 601

Beberapa  poin  yang  menjadi  keberatan  para  pekerja  di  antaranya  soal  penghapusan  upah
              minimum kota/kabupaten (UMK) dan diganti dengan upah minimum provinsi (UMP). Aturan ini
              dinilai akan membuat upah pekerja lebih rendah.

              Mereka juga mengkritisi tidak adanya batas waktu perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau
              pegawai kontrak. Aturan ini dinilai merugikan pekerja karena jangka waktu kontrak akan berada
              di tangan pengusaha dan status pekerja kontrak bisa selamanya. Selain itu pengusaha sewaktu-
              waktu bisa melakukan PHK.

              Banyak kalangan menyesalkan pengesahan RUU yang sarat kontroversi ini. Pertama, karena
              banyak pasal di RUU ini yang dinilai bermasalah dan merugikan rakyat, khususnya para pekerja.
              Selain  itu,  RUU  ini  disahkan  di  tengah  meruaknya  virus  Corona  dan  pandemi  yang  belum
              sepenuhnya terkendali.

              Ada kesan, pemerintah dan DPR RI sengaja memanfaatkan pandemi guna meloloskan RUU ini.
              Pasalnya, saat ini semua mata tertuju pada penanganan virus Corona dan konsentrasi tercurah
              pada upaya menangani pandemi.

              Pembahasan RUU ini juga dilakukan diam-diam seperti mengejar setoran. Masa reses juga tetap
              digunakan untuk membahas RUU yang dinilai "cacat" ini.

              RUU ini bahkan pernah dibahas secara diam-diam di sebuah hotel pada akhir pekan. Padahal
              menurut aturan, kegiatan atau rapat selama pandemi hanya dilakukan pada Senin hingga Jumat.

              Kondisi ini tentu mencurigakan dan menyisakan pertanyaan. Kenapa DPR harus diam-diam dan
              seperti mengejar setoran hanya untuk membahas dan mengesahkan sebuah undang-undang.

              Sikap pemerintah dan DPR RI yang ngotot membahas dan mengesahkan RUU Cipta Kerja ini
              seolah berbanding terbalik dengan penanganan pandemi. Pasalnya, hingga saat ini penyebaran
              dan penularan virus asal Wuhan, China ini masih terus terjadi.

              Bahkan dalam beberapa pekan terakhir, angka kasus positif Covid-19 mencapai empat ribuan
              dalam sehari. Mengutip data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, kasus terkonfirmasi positif
              Covid-19 di Indonesia per Selasa, 6 Oktober 2020 sudah menembus angka 300 ribu lebih.

              Jumlah tersebut merupakan angka yang sangat besar dan menunjukkan bahwa penularan virus
              Corona  masih  terus  terjadi.  Jika  dibandingkan  dengan  angka  global,  Indonesia  saat  ini
              menduduki  peringkat  137  dari  216  negara,  dengan  jumlah  kasus  sebesar  1.120  per  1  juta
              penduduk. Indonesia menduduki peringkat 102 dari 216 negara dengan jumlah kematian 41 per
              1 juta penduduk.

              Satgas Covid-19 mencatat, dalam dua pekan terakhir penanganan Covid-19 di sembilan provinsi
              prioritas ditambah Banten juga menunjukkan jumlah kasus aktif secara nasional masih terus
              meningkat.

              Sejak Presiden Joko Widodo menunjuk Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar
              Pandjaitan  dan  Ketua  Satgas  Covid-19  Doni  Monardo  untuk  menangani  Covid-19  di  provinsi
              prioritas, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan
              Selatan, Sulawesi Selatan, Papua, Bali ditambah Banten, jumlah kasus aktif secara nasional terus
              meningkat.

              Sementara, vaksin yang digadang-gadang bisa menekan penularan tak kunjung datang. Padahal,
              vaksin akan menjadi senjata untuk melawan penyebaran dan penularan virus corona.






                                                           600
   596   597   598   599   600   601   602   603   604   605   606