Page 641 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 641

Dalam UU Cipta Kerja, pasal 59 UU Ketenagakerjaan memang diubah. Tidak lagi ada ketentuan
              status pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu paling lama dua tahun dan hanya bisa
              diperpanjang satu kali.

              Hanya saja, perjanjian kerja waktu tertentu atau ketentuan status pegawai kontrak, baik jangka
              waktu dan selesainya dalam UU Cipta Kerja ditentukan berdasarkan perjanjian kerja.

              Sementara itu, status terkait pekerja tetap atau yang diistilahkan dengan perjanjian kerja untuk
              waktu  tidak  tertentu  masih  tetap  ada  dan  dicantumkan  dalam  pasal  56  seperti  di  UU
              Ketenagakerjaan.

              3. Ketentuan PHK  Kemudian, beredar juga narasi terkait kebebasan perusahaan melakukan
              Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pekerjanya dalam UU Cipta Kerja. Dalam UU Ketenagakerjaan
              PHK diatur khusus dalam BAB XII.

              Sementara itu, jika dilihat di UU Cipta Kerja, ketentuan PHK tertuang mulai pasal 151 BAB IV
              Ketenagakerjaan. Tidak ada ketentuan yang membolehkan perusahaan melakukan PHK secara
              sepihak dan tanpa ada proses.

              Namun, memang pasal 151 diubah, misalnya tidak lagi ada kata-kata harus dirundingkan dulu
              dengan serikat pekerja atau pekerjanya itu sendiri. Selain itu, pasal 152 dihapus dan adanya
              ketentuan kewenangan perusahaan melakukan PHK dalam pasal 154A.

              Misalnya PHK dapat dilakukan bila perusahaan efisiensi, pailit, rugi hingga pekerja mengalami
              sakit  berkepanjangan  atau  cacat  akibat  kecelakaan  kerja  dan  tidak  dapat  melakukan
              pekerjaannya setelah melampaui batas 12 bulan.

              4. Upah Buruh Dihitung Per Jam  Selanjutnya beredar narasi mengenai upah buruh yang dihitung
              perjam. Untuk ketentuan ini pada dasarnya tidak ada beda dengan UU Ketengakerjaan. Hanya
              saja ada pembaruan dalam UU Cipta Kerja.

              Dalam UU Ketenagakerjaan ketentuan pengupahan memiliki istilah upah minimum yang diatur
              pemerintah.  Sementara  itu,  dalam  UU  Cipta  Kerja  ada  ketentuan  Pasal  88B  bahwa  upah
              ditetapkan berdasarkan satuan waktu dan satuan hasil.

              Selain itu, pasal 89 dan 90 dalam UU Ketenagakerjaan juga dihapus. Pasal itu berisi mengenai
              ketentuan upah minimum serta adanya ketentuan pengusaha dilarang membayar upah lebih
              rendah dari upah minimum.
              5. Hilangnya Hak Cuti  Narasi  hoax  terakhir yang muncul adalah hilangnya semua hak cuti dan
              tidak ada kompensasi. Jika dilihat di draf Undang-Undang Cipta Kerja, hak-hak tersebut masih
              tertera seperti di UU Ketenagakerjaan. Hanya saja ada modifikasi.

              Misalnya, untuk istirahat mingguan sebelumnya bisa dapat 1 hari untuk 6 hari kerja dan 2 hari
              untuk 5 hari kerja menjadi hanya sebanyak 1 hari untuk 6 hari kerja dalam satu minggu. Artinya
              libur 2 hari ditiadakan.

              Sementara itu, cuti tahunan masih sama 12 hari dalam satu tahun. Sedangkan cuti atau istirahat
              panjang dua bulan tidak diatur dan ketentuan haid juga tidak diatur. Semua itu hanya dibolehkan
              diatur dalam perjanjian kerja ataupun peraturan perusahaan. (ase).









                                                           640
   636   637   638   639   640   641   642   643   644   645   646