Page 564 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 564

Ringkasan

              BPJAMSOSTEK  se-Surabaya  menggelar  Media  Gathering  dan  Sosialisasi  PP  49  Tahun  2020,
              Selasa (6/10) kemarin. [Gegeh Bagus Setiadi]  Surabaya,  Pengesahan omnibus law Rancangan
              Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja dinilai dapat mengganggu ketahanan dana jangka panjang
              dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Hal tersebut bukan hanya
              berimbas bagi para pekerja, tapi juga keuangan negara.



              RUU CIPTA KERJA BERDAMPAK KE JAMSOS KETENAGAKERJAAN

              BPJAMSOSTEK  se-Surabaya  menggelar  Media  Gathering  dan  Sosialisasi  PP  49  Tahun  2020,
              Selasa (6/10) kemarin. [Gegeh Bagus Setiadi]  Surabaya,  Pengesahan omnibus law Rancangan
              Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja dinilai dapat mengganggu ketahanan dana jangka panjang
              dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Hal tersebut bukan hanya
              berimbas bagi para pekerja, tapi juga keuangan negara.

              Menurut  Ketua  BPJS Watch  Jatim,  Arief  Supriyono,  sejumlah  poin  dalam  omnibus  law  dapat
              berdampak  negatif  bagi  pelaksanaan  jaminan  sosial  (Jamsos)  ketenagakerjaan.  Hal  tersebut
              akan  berawal  dari  mudahnya  perekrutan  pekerja  kontrak  dan  outsource,  yang  disertai
              longgarnya kewajiban pengangkatan pegawai tetap.

              Adanya aturan tersebut menjadikan dunia usaha dapat mempekerjakan karyawan kontrak secara
              terus menerus. Selain itu rawan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi para pekerja tetap
              lalu digantikan oleh pekerja kontrak, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi pekerja.

              "Setelah omnibus law disampaikan oleh pemerintah melalui Menko perekonomian dan DPR, Maka
              sebenarnya dampaknya sangat luar biasa sekali terhadap masyarakat pekerja. Ini juga akan
              berdampak  di  perlindungan  jaminan  sosial  nya,  tentunya  BPJS  Ketenagakerjaan,"  katanya,
              Selasa (7/10).

              Menurut Arief, yang sebelumnya aturan mengikat itu lebih banyak terakomodir dalam UU 13
              2003, terkait UU Ketenagakerjaan. Tapi, lanjut dia, disini pemerintah membuat UU itu seolah-
              olah menjadi satu kesatuan yang namanya omnibus law. "Disitu disampaikan UU Cipta Kerja,
              tapi ini sangat merugikan masyarakat pekerja sebenarnya," jelasnya.

              Ia membeberkan ada beberapa hal, dimana banyak dari omnibus law ini yang tidak sepenuhnya
              mendukung ataupun bisa berdampak positif kepada buruh. Apalagi, pada masa pandemi Covid-
              19 banyak pekerja dirumahkan bahkan terkena PHK.

              "Karena kita tahu bahwa bagaimana pemerintah itu menaikkan nilai investasi tapi tidak dilihat
              masyarakatnya  seperti  apa.  Dengan  kondisi  Pandemi  ini  banyak  masyarakat  pekerja  yang
              dirumahkan  bahkan  di  PHK  itu  juga  harus  menjadi  tanggung  jawab  pemerintah,  tidak  terus
              pemerintah mengajukan untuk menarik investasi. Investasi seperti apa," tegas dia.

              Pihaknya melihat tenaga kontrak sebelumnya hanya berada kepada masyarakat ataupun pekerja
              cord bisnis. Bagaimana pekerja akan dihitung hari. "Ini yang juga kalau kita melihat pekerja
              dihitung  hari  bagaimana  mendapatkan  upah,  upah  itu  dibayarkan  ke  jaminan  perlindungan
              sosial. Ini sangat berdampak pada iuran BPJS ketenagakerjaan juga kan," bebernya.

              "Yang perlu diwaspadai BPJS Ketenagakerjaan itu, dimana pekerja tidak mendapatkan kepastian,
              memang iya mereka bekerja tapi akan dihitung jumlah hari mereka bekerja. Kalau dulu dihitung
              1 bulan," pungkasnya.




                                                           563
   559   560   561   562   563   564   565   566   567   568   569