Page 567 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 567

bersepakat bahwa produk legislasi itu mengancam kelompok minoritas agama dan merampas
              ruang hidup rakyat kecil.
              Tokoh dan aktivis keagamaan yang tergabung menolak UU Cipta Kerja ini antara lain Busryo
              Muqodas,  Pendeta  Merry  Koliman,  Ulil  Abshar  Abdalla,  Engkus  Rusana,  Roy  Murtadho  dan
              Pendeta Penrad Sagian.

              Koordinator  Front  Nahdliyin  untuk  Kedaulatan  Sumber  Daya  Alam  (FNKSDA)  Roy  Murtadho
              menyatakan beberapa poin dalam omnibus law cipta kerja dapat mengerdilkan minoritas agama
              atau aliran kepercayaan dan masyarakat adat.

              Roy menyoroti satu poin dalam UU Ciptaker Paragraf 16 tentang Pertahanan dan Keamanan
              Pasal 15 Ayat (1) huruf D. Beleid pasal itu memberi wewenang Polri mengawasi aliran yang
              dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

              "Mengawasi  aliran  yang  dapat  menimbulkan  perpecahan  atau  mengancam  persatuan  dan
              kesatuan bangsa," demikian bunyi poin dalam draft UU Omnibus Law yang baru, sebagaimana
              dikutip  CNNIndonesia.com  , Selasa (6/10).

              Dalam bagian penjelasan, yang dimaksud dengan 'aliran' adalah semua aliran atau paham yang
              dapat  menimbulkan  perpecahan  atau  mengancam  persatuan  dan  kesatuan  bangsa.  Salah
              satunya  aliran  kepercayaan  yang  bertentangan  dengan  falsafah  dasar  Negara  Republik
              Indonesia.

              Yang dikhawatirkan, tidak ada penjelasan secara gamblang terkait maksud poin itu. Roy bilang
              paparan yang tidak spesifik itu yang Roy bisa saja dijadikan acuan dalam segala hal oleh negara.

              Menurut Roy pasal itu kian mengancam keberadaan masyarakat adat dengan aliran kepercayaan
              masing-masing sudah sebelumnya pun telah rentan terhadap ancaman.
              "Saya kira mengapa ini menjadi penting ini karena dapat mengancam kebebasan beragama dan
              berkeyakinan terutama bagi masyarakat adat. Seringkali keberadaan masyarakat adat dianggap
              minor padahal mereka orang-orang yang ada di Indonesia sejak awal," kata Roy dalam diskusi
              daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Fraksi Rakyat ID, Selasa (6/10).

              Roy juga mengaitkan pasal itu dengan aturan soal diskriminasi terhadap aliran kepercayaan atau
              kebatinan  yang  telah  ditegaskan  melanggar  konstitusi  melalui  Putusan  MK  Nomor  97/PUU-
              XIV/2016.
              Selain mengancam aliran kepercayaan Omnibus Law Cipta Kerja juga berpotensi menciptakan
              konflik agraria dan kerusakan lingkungan hidup. Padahal, kata dia, sebelum ada undang-undang
              ini pun telah banyak terjadi konflik agraria.

              Roy menyebut dalam kurun 5 tahun terakhir sedikitnya ada 1.298 kasus kriminalisasi terhadap
              rakyat akibat mempertahankan hak atas tanah dan wilayah hidupnya.

              Ia pun mengutip perubahan UU P3H yakni Pasal 82, 83 dan 84, yang ada di dalam pasal 38 UU
              Cipta Kerja. Dia bilang bahwa pasal itu memuat ancaman pidana kepada orang-perorangan yang
              dituduh melakukan penebangan pohon, memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, membawa alat-
              alat yang lazim digunakan untuk menebang, memotong dan membelah pohon tanpa perizinan
              dari pejabat yang berwenang di kawasan hutan.

              Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Mery Kolimon menyebut UU Ciptaker
              ini sudah memangkas hak-hak buruh atau pekerja.





                                                           566
   562   563   564   565   566   567   568   569   570   571   572