Page 753 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 753

c. Perjanjian kerja harus mensyaratkan pengalihan perlindungan hak-hak bagi pekerja/buruh
              apabila terjadi pergantian perusahaan alih daya dan sepanjang objek pekerjanya tetap ada.
              d. Apabila terjadi pengalihan pekerjaan dari perusahaan alih daya, masa kerja dari pekerja/buruh
              tetap dihitung.

              e. Perusahaan alih daya berbentuk badan hukum dan wajib memenuhi perizinan berusaha yang
              diterbitkan oleh pemerintah pusat.

              3. Upah. Kenaikan upah minimum provinsi dan kabupaten prosentasenya adalah sebesar nilai
              inflasi  atau  pertumbuhan  ekonomi  daerah  itu.  Upah  minimum  sektor  UMKM  ditetapkan
              berdasarkan kesempatan, dasarnya adalah tingkat konsumsi masyarakat di daerah itu.

              4. Soal waktu kerja.

              a. Ada batasan waktu kerja maksimal per minggu sesuai konvensi ILO yaitu 40 jam.

              b. Ada batasan maksimla waktu lembur sesuai konvensi ILO.
              5.  PHK.  Syarat-syarat  PHK  tetap  mengacu  pada  UU  sebelumnya  dan  putusan  Mahkamah
              Konstitusi.

              6. Pesangon.

              a. Nilai maksimal pesangon adalah 19 kali upah.

              b. Pekerja Ter-PHK berhak menerima jaminan kehilangan pekerjaan dari BPJS, diberikan selama
              6 bulan tanpa menambah iuran.

              7. Sanksi pidana ketenagakerjaan tetap akan diberlakukan, tidak dihapus. Sehingga diharapkan
              agar semua pihak menjaga kepatuhan.

              8. Serikat pekerja dan pengusaha akan terlibat dalam proses penyusunan peraturan pelaksanaan
              undang-undang.

              Pasal-Pasal Kontroversial  UU Cipta Kerja  DPR bersama pemerintah mengesahkan Omnibus Law
              RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang pada Senin, (5/10/2020) kemarin.

              Diketahui,  UU Cipta Kerja  terdiri atas 15 bab dan 174 pasal. Di dalamnya, mengatur mengenai
              ketenagakerjaan hingga lingkungan hidup.

              Beberapa  pasal  dalam  Undang-undang  Cipta  Kerja  Bab  IV  tentang  Ketenagakerjaan  dinilai
              bermasalah  dan  kontroversial.  Itu  di  antaranya  sebagai  berikut:    Pasal  59    UU  Cipta  Kerja
              menghapus aturan mengenai jangka waktu perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau pekerja
              kontrak.

              Pasal 59 ayat (4)  UU Cipta Kerja  menyebutkan, ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan sifat
              atau kegiatan pekerjaan, jangka waktu, dan batas waktu perpanjangan perjanjian kerja waktu
              tertentu diatur dengan peraturan pemerintah.

              Pasal 79  Hak pekerja mendapatkan hari libur dua hari dalam satu pekan yang sebelumnya diatur
              dalam UU Ketenagakerjaan dipangkas.
              Pasal 79 ayat (2) huruf (b) mengatur, pekerja wajib diberikan waktu istirahat mingguan satu hari
              untuk enam hari kerja dalam satu pekan.





                                                           752
   748   749   750   751   752   753   754   755   756   757   758