Page 120 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 AGUSTUS 2021
P. 120

FAKTA GADIS ASAL INDRAMAYU DIKIRIM KE PAPUA JADI PEMANDU LAGU, ORANG
              TUA SEMPAT DIMINTAI TEBUSAN
              Seorang gadis berinisial SDD (14) menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)
              atau trafficking.

              Ia dikirim ke Paniai, Papua untuk dipekerjakan sebagai pemandu lagu di sebuah tempat karaoke.

              Korban mendapat penyiksaan jika tak mau melayani tamu yang datang.

              SDD    diketahui   merupakan     anak    tukang    bubur    warga    Kelurahan    Bojongsari,
              Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

              Berikut  sejumlah  fakta  terkait  kasus  gadis  asal  Indramayu  dijual  untuk  jadi  pemandu  lagu,
              sebagaimana dirangkum Tribunnews dari Tribun Jabar:

              Kronologi kejadian

              Ibu SDD, Marni (33) mengatakan, kejadian berawal pada 1 Juli 2021 lalu.

              Saat itu, teman anaknya berinisial D datang ke rumah kontrakan mereka.

              D meminta izin untuk mengajak korban pergi bermain.

              "Temannya itu teman baru kenal, diajak main terus dibawa ke rumah orang yang menyalurkan
              anak saya ke Papua," kata Marni, Rabu (11/8/2021).

              Sejak saat itu, kata Marni, nomor telepon anaknya tidak bisa dihubungi.

              Korban baru memberi kabar dua hari setelahnya, yakni pada 3 Juli 2021.

              Korban mengabarkan, bahwa dirinya berada di Surabaya dan dipekerjakan di sebuah kedai kopi.

              Marni yang mengetahui kabar itu segera meminta anaknya untuk pulang.

              Namun, pada 21 Juli 2021, korban kembali memberi kabar bahwa dirinya dibawa ke Paniai,
              Papua.
              Di sana, korban dijadikan pemandu lagu di sebuah tempat karaoke.

              Bahkan, SDD mengaku mendapat siksaan dan tak diberi makan jika tak mau melayani tamu yang
              datang.

              "Karena anak saya kan nggak mau kerja begitu, tidak sesuai dengan yang diinginkannya, anak
              saya nangis-nangis minta dipulangkan," bebernya.
              Dimintai tebusan Rp 25 juta

              Orangtua korban sempat dimintai uang tebusan Rp 25 juta jika ingin anaknya kembali.

              "Iya  korban  diminta  tebusan  Rp  25  juta,"  kata  Koordinator  Lembaga  Perlindungan  Anak
              Indramayu (LPAI), Adi Wijaya.

              Namun, lanjut Adi, keluarga keberatan dengan jumlah tersebut.

              Meski demikian, pihak keluarga tetap memaksa agar anaknya dipulangkan.

              Pemilik tempat karaoke di Papua pun akhirnya menurunkan tarif tebusan menjadi Rp 7 juta.

                                                           119
   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125