Page 494 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 494

PENGUSAHA PASRAH KENA SANKSI GARA-GARA CEKAK BAYAR THR

              Jakarta - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial
              Anton  J.  Supit  menyebut  kalangan  pengusaha  pasrah  apabila  nanti  mendapatkan  sanksi
              keterlambatan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) sesuai ketentuan.

              Pasalnya, ia mengungkapkan bahwa pengusaha di sejumlah sektor masih kesulitan untuk bisa
              membayar THR bagi para karyawannya.

              "Terserah pemerintah, kan katanya ada sanksi. Silakan saja pemerintah yang urus karena ini
              sudah di luar kemampuan kami," katanya dilansir dari Antara, Jumat (7/5).

              Menurutnya,  keputusan  Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah  tentang  pembayaran  THR
              karyawan  tahun  ini  tidak  memberi  kesempatan  bagi  perusahaan-perusahaan  di  sektor  yang
              masih lesu, seperti perhotelan atau transportasi, hingga UMKM.
              Sementara, sektor-sektor tersebut diketahui masih terseok-seok untuk bisa mempertahankan
              operasional mereka.

              Ketentuan  itu  tertuang  dalam  Surat  Edaran  Menaker  RI  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021  tentang
              Pelaksanaan  Pemberian Tunjangan  Hari  Raya  Keagamaan  tahun  2021  Bagi  Pekerja/Buruh  di
              Perusahaan.

              "Ini juga bukan kesalahan perusahaan tapi force majeure. Mestinya ini keadaan tidak normal,
              tapi dipaksakan supaya melakukan hal normal (membayar THR penuh)," ujar Anton.

              Dalam aturan itu, pemerintah memberikan kelonggaran bagi perusahaan yang terdampak covid-
              19  dan  tidak  mampu  memberikan  THR  2021  sesuai  dengan  waktu  yang  telah  ditentukan,
              melakukan dialog dengan pekerja. Selanjutnya, hasil dialog tersebut harus dilaporkan ke Dinas
              Ketenagakerjaan setempat.

              Namun,  pengusaha  tetap  harus  membayar  THR  paling  lambat  sehari  sebelum  hari  raya
              keagamaan. Jika terlambat, ada sanksi yang dibebankan kepada pengusaha.

              "SE Menaker tidak memberi peluang bagi yang tidak mampu. Hanya menekankan, bagi yang
              mampu minimal satu minggu sebelum Lebaran harus bayar, yang tidak mampu harus lapor ke
              pemda, tapi paling lambat satu hari sebelum Lebaran harus bayar. Jadi tidak ada kata lain, harus
              bayar," jelasnya.

              Sikap pasrah itu juga didasari masukan pengusaha dalam perundingan tripartit ternyata tidak
              dihiraukan. Ia mengatakan perwakilan pengusaha sudah menyatakan masalah yang dihadapi
              pengusaha, namun putusan dalam SE Menaker belum mewakili suara pengusaha.

              "Semestinya  kebijakan  yang  keluar  itu  (perusahaan)  yang  betul-betul  tidak  mampu  silahkan
              berunding bipartit karena yang paling tahu kondisi di dalam perusahaan adalah manajemen dan
              karyawan," pungkasnya.















                                                           493
   489   490   491   492   493   494   495   496   497   498   499