Page 492 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 492

KADIN UNGKAP SEKTOR USAHA YANG SULIT BAYAR THR PEKERJA

              Jakarta - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial
              Anton J. Supit mengakui pengusaha di sejumlah sektor masih kesulitan untuk bisa membayar
              Tunjangan Hari Raya (THR) penuh bagi para karyawannya.

              Ia  pun  mengaku  pasrah  jika  nantinya  ada  perusahaan  yang  dikenakan  denda  dan  sanksi
              administratif sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2021 tentang Pengupahan.

              "Terserah pemerintah, kan katanya ada sanksi. Silakan saja pemerintah yang urus karena ini
              sudah di luar kemampuan kami," kata Anton dihubungi di Jakarta, Jumat.

              Menurut Anton, berdasarkan keputusan pemerintah melalui Surat Edaran Menaker RI Nomor
              M/6/HK.04/IV/2021  tentang  Pelaksanaan Pemberian  Tunjangan  Hari  Raya  Keagamaan  tahun
              2021  Bagi  Pekerja/Buruh  di  Perusahaan,  pembayaran  THR  harus  sesuai  dengan  ketentuan
              perundangan-undangan,  yaitu  Peraturan  Pemerintah  Nomor  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan  dan  Peraturan  Menaker  Nomor  6  Tahun  2016  tentang  Tunjangan  Hari  Raya
              Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Bagi perusahaan yang terdampak COVID-19 dan tidak mampu memberikan THR 2021 sesuai
              dengan waktu yang telah ditentukan, dalam edaran tersebut mewajibkan pengusaha melakukan
              dialog dengan pekerja untuk mencapai kesepakatan yang dilaksanakan secara kekeluargaan dan
              dengan itikad baik dan berdasarkan laporan keuangan internal.

              Hasil  dari  dialog  tersebut  harus  dilaporkan  ke  Dinas  Ketenagakerjaan  setempat  dengan
              pemberian THR paling lambat dilakukan sehari sebelum hari raya keagamaan. Terdapat sanksi
              bila terlambat atau bahkan tidak membayar THR tersebut.

              "SE Menaker menyebutkan bahwa tidak memberikan peluang bagi yang tidak mampu. Itu hanya
              menekankan, bagi yang mampu minimal 1 minggu sebelum Lebaran harus bayar. Yang tidak
              mampu harus lapor ke pemda, tapi paling lambat 1 hari sebelum Lebaran harus bayar. Jadi tidak
              ada kata lain, harus bayar," katanya.

              Menurut Anton, kewajiban tersebut tidak memberi kesempatan bagi perusahaan-perusahaan di
              sektor yang masih lesu seperti perhotelan atau transportasi, hingga UMKM. Padahal, sektor-
              sektor tersebut saja masih terseok untuk bisa mempertahankan operasional mereka.

              "Kita tahu pandemi ini kan melanda bukan cuma kita tapi juga dunia. Kedua, ini juga bukan
              kesalahan perusahaan tapi force majeure. Mestinya ini keadaan tidak normal tapi dipaksakan
              supaya melakukan hal normal (membayar THR penuh)," katanya.

              Anton juga menambahkan sikap pasrah itu disampaikan lantaran masukan pengusaha dalam
              perundingan  tripartit ternyata  tidak dihiraukan. Ia  mengatakan  perwakilan  pengusaha  sudah
              menyatakan masalah yang dihadapi pengusaha.

              "Semestinya kebijakan yang keluar itu (perusahaan) yang betul-betul tidak mampu (soal THR)
              silakan  berunding  bipartit  karena  yang  paling  tahu  kondisi  di  dalam  perusahaan  adalah
              manajemen  dan  karyawan.  Kedua,  kita  ini  hanya  mau  ambil  telur  atau  ayamnya  yang  kita
              pertahankan? Yang bijaksana harusnya seperti itu," kata Anton.

              BACA: Direksi Pan Brothers Beberkan Kondisi Arus Kas Usai Ribuan Buruh Demo Tuntut THR.







                                                           491
   487   488   489   490   491   492   493   494   495   496   497