Page 518 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 OKTOBER 2020
P. 518

Menurut Askar, konsep ini terlihat dalam deregulasi Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan
              alih daya (outsourcing) dalam Omnibus Law. "Ini memberikan konfirmasi bahwa tujuan UU ini
              adalah untuk menurunkan biaya perekrutan dan pemutusan hubungan kerja (PHK)," kata dia.

              Akan tetapi, Askar menyebut konsep fleksibilitas seperti ini hanya diterapkan di negara-negara
              yang  memiliki  SDM  yang  sudah  baik.  Contohnya  seperti  Singapura,  Denmark,  Jerman,  dan
              negara skandinavia lainnya.

              Sebaliknya konsep ini tidak cocok diterapkan di Indonesia yang masih didominasi tenaga kerja
              tidak terampil (low skilled workers). Jika diterapkan di tengah kondisi pasar yang belum siap,
              maka diprediksi akan lahir ketimpangan antar tenaga kerja terampil (high-skilled workers) dan
              tidak terampil.

              Sebab, kata Askar, pasar tenaga kerja fleksibel akan lebih menguntungkan high-skilled workers
              dengan  keterampilan  yang  dimiliknya.  Sebaliknya  low-skilled  workers  dipastikan  akan  lebih
              kesulitan mendapatkan pekerja baru bila terkena PHK.
              Dalam Omnibus Law, dua ketentuan ini memang berubah. Contohnya yaitu pekerja berstatus
              PKWT.  Dalam  aturan  baru,  pemerintah  tidak  mengatur  secara  rinci  batas  waktu  pembaruan
              tenaga kontrak. Ketentuan mengenai detail jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaan, jangka waktu
              dan  batas  waktu  perpanjangan  perjanjian  kerja  akan  diatur  dengan  beleid  turunan  melalui
              peraturan pemerintah.

              Sedangkan pada  UU Ketenagakerjaan  perjanjian waktu kerja tertentu ditetapkan maksimal dua
              tahun  dengan  pembaruan  kontrak  paling  banyak  satu  kali.  Selain  itu,  Omnibus  Law  juga
              memangkas aturan masa tenggang pembaruan tenaga kontrak.

              Di hari yang sama, akun twitter resmi Kementerian Ketenagakerjaan juga mulai menyebarkan
              informasi soal Omnibus Law ini. Dalam hal PKWT, kementerian tidak menyinggung soal batas
              waktu pemberuan tenaga kontrak ini.
              Hanya disebutkan empat poin saja yaitu PKWT hanya untuk pekerjaan yang memenuhi syarat-
              syarat tertentu (tidak tetap). Lalu, PKWT memberikan perlindungan untuk kelangsungan bekerja
              dan perlindungan hak pekerja sampai pekerjaa selesai.

              Kemudian, PKWT berakhir, pekerja berhak mendapatkan uang kompensasi, sesuai dengan masa
              kerja mereka. Ini akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.

              Terakhir, syarat PKWT disebut tetap mengacu pada UU Ketenagakerjaan. "Dengan penyesuaian
              terhadap perkembangan kebutuhan dunia kerja," tulis pihak Kemenaker.























                                                           517
   513   514   515   516   517   518   519   520   521   522   523