Page 445 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 445

TATA KELOLA PENEMPATAN PMI HARUS MENGEDEPANKAN ASPEK PELINDUNGAN
              DAN JAMINAN SOSIAL
              Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) Nomor 59 Tahun
              2021 tentang Pelaksanaan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

              PP yang dapat diakses pada laman JDIH Sekretariat Kabinet tersebut ditandatangani Presiden
              RI Joko Widodo (Jokowi) pada tanggal 6 April 2021 dan diundangkan oleh Menteri Hukum dan
              Hak Asasi Manusia Yasonna H. Laoly pada tanggal 7 April 2021.

              Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)  Ida  Fauziyah  mengatakan,  PP  ini  merupakan  salah  satu
              aturan turunan dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran
              Indonesia (UU PPMI). Peraturan ini merupakan bagian perjuangan dan bukti kehadiran negara
              untuk pelindungan pekerja migran.

              "Ini adalah aturan yang sangat ditunggu-tunggu, karena di samping PP ini memuat aturan yang
              lebih menjelaskan substansi UU 18/2017 juga merupakan instrumen hukum yang penting untuk
              memperbaiki tata kelola penempatan dan pelindungan bagi pekerja migran kita," ujarnya, dikutip
              dari laman Kementerian Ketenagakerjaan, Jumat (23/04/2021).

              Menaker menyampaikan, tata kelola penempatan PMI harus mengedepankan aspek pelindungan
              dan  jaminan  sosial,  mengingat  proses  dan  pergerakan  migrasi  pekerja  antarnegara  sangat
              dinamis. Pemerintah ingin ke depannya pekerja migran yang bekerja ke luar negeri semakin
              banyak berorientasi kepada mereka yang terampil ( ) dan kompeten "Prinsipnya pemerintah
              memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas perlindungan pekerja migran Indonesia
              dan salah satu caranya adalah dengan meningkatkan keahlian pekerja migran dan penerapan
              regulasi yang baik," ujarnya.

              Lebih  lanjut  Ida  menjelaskan,  peraturan  ini  terdiri  dari  tujuh  Bab.  Bab  I  memuat  tentang
              Ketentuan Umum dan Bab II mengatur tentang pelindungan PMI.
              "Pelindungan PMI ini adalah isu sentralnya. Sehingga dalam pelaksanaanya, PP ini mengatur
              mengenai pelindungan sebelum PMI berangkat bekerja, selama bekerja di negara penempatan,
              hingga setelah bekerja," terangnya.

              Selanjutnya, pada Bab III diatur tentang Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) penempatan dan
              pelindungan PMI. Pembentukan LTSA dilakukan untuk meningkatkan pelayanan yang efektif,
              efisien, transparan, cepat, dan berkualitas tanpa diskriminasi.

              LTSA ini akan mengoordinasikan dan mengintegrasikan delapan layanan instansi/lembaga dalam
              bentuk desk. Kedelapan layanan tersebut terdiri atas desk ketenagakerjaan; desk pengaduan
              dan informasi; desk kependudukan dan pencatatan sipil; desk kesehatan; desk keimigrasian;
              desk kepolisian; desk perbankan; dan desk jaminan sosial.

              Selanjutnya, Bab IV yang mencakup tentang pembagian tugas dan tanggung jawab secara tegas
              antara  pemerintah  pusat  dan  pemerintah  daerah  dalam  memberikan  perlindungan  terhadap
              pekerja migran Indonesia dan keluarganya secara terintegrasi dan terkoordinasi.

              "Bahkan dalam PP ini, pemerintah desa juga dilibatkan dalam proses migrasi. Karena perbaikan
              tata kelola migrasi ini benar-benar membutuhkan komitmen seluruh pihak, termasuk elemen
              pemerintahan terkecil di desa," ujar Menaker.

              Sementara  pada  Bab  V  diatur  mengenai  Perusahaan  Penempatan  Pekerja  Migran  Indonesia
              (P3MI) dan Bab VI tentang pembinaan dan pengawasan.




                                                           444
   440   441   442   443   444   445   446   447   448   449   450