Page 1205 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1205

bahwa pemerintah jelas tidak ada keberpihakan terhadap kaum buruh atau pekerja. Padahal,
              tuntutan buruh, upah minimun naik 8%," ujarnya.
              Kalangan buruh Kota Cimahi mengancam akan melakukan aksi lanjutan apabila tidak ada sama
              sekali kenaikan upah untuk tahun depan.

              Menurut dia, keputusan ini menambah beban berat setelah pengesahan Undang-Undang Cipta
              Kerja. Produk hukum tersebut hingga kini masih mendapat tentangan dari para buruh. "Undang-
              Un-dang Cipta Kerja aja masih masalah, sekarang memunculkan masalah baru," tuturnya.

              Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Cimahi Uce Herdiana mengatakan, pihaknya sudah menerima
              Surat  Edaran  Menteri  Ketenagakerjaan  tersebut.  "Betul,  kita  sudah  terima  surat  edarannya.
              Isinya, upah minimum 2021 sama dengan upah minimum tahun 2020," katanya.

              Ia mengungkapkan, untuk langkah selanjutnya, pemkot akan menggelar rapat pleno dengan
              Dewan Pengupahan Kota Cimahi dalam waktu dekat. Hasil pleno akan disampaikan kepada Wali
              Kota Cimahi untuk diteruskan kepada Gubernur Jawa Barat. "Walau sudah ada edaran, tetap
              harus diplenokan. Sudah ada hasil pleno, diusulkan ke wali kota untuk diusulkan ke gubernur
              dan ditetapkan sebagai UMK," ucapnya.

              Menurut dia, Pemkot Cimahi hanya melaksanakan regulasi dari pemerintah pusat. "Buruh kan
              pasti inginnya naik, tapi kan sudah ada edarannya," ujarnya.

              Tinggal diteken
              Dewan Pengupahan Jawa Barat merekomendasikan nilai UMP tahun 2021 tidak berubah, tetap
              sama dengan nilai UMP 2020, yaitu Rp 1.810.351,36. Draf UMP 2021 sudah dirumuskan, tinggal
              ditandatangani oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

              Ketua Dewan Pengupahan yang juga Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat
              Rachmat Taufik Garsadi mengatakan, Dewan Pengupahan Jabar merekomendasikan nilai UMP
              2021 yang sama dengan 2020 untuk ditetapkan sebagai UMP 2021. Hal itu didasari oleh Surat
              Edaran Menteri Ketenagakerjaan.

              "Jadi tidak ada kenaikan dan tidak ada penurunan, sama dengan 2020. Kemarin, yang diminta
              serikat kan mereka tolak UMP, ingin UMK, dan naik 8%. Dengan UMP ditolak, ya tidak boleh
              karena  gubernur  harus  menetapkan  UMP  1  November.  UMP  ini  menjadi  dasar  bagi
              kabupaten/kota  untuk  menetapkan  UMK,  tidak  boleh  rendah  dari  UMP,"  ujarnya,  Selasa
              (27/10/2020).

              Kemarin, kata Taufik, pihaknya sudah menyampaikan draf dokumen UMP ke Biro Pelayanan dan
              Pengembangan  Sosial  dan  Biro  Hukum  Sekretariat  Provinsi  Jabar.  "Nanti  Biro  Hukum  yang
              memproses pengesahan kepada Pak Gubernur. Jadi, sesuailah, paling lambat tanggal 31 Oktober
              ditetapkan oleh Pak Gubernur," katanya.

              Ia mengakui bahwa keputusan Dewan Pengupahan ditentang oleh serikat pekerja. Meskipun
              demikian, pihaknya telah menyampaikan bahwa UMP ini  merupakan jaring pengaman paling
              bawah yang justru harus ditetapkan. "Nah, kita menggunakan surat edaran menteri karena tidak
              ada lagi yang bisa kita lakukan," ucapnya.

              Taufik menyatakan, merujuk PP 78/2015, setiap lima tahun harus ditetapkan kebutuhan hidup
              layak. Pada Peraturan Menaker 18 Tahun 2020, memang sudah ditetapkan bahwa terdapat 64
              komponen  KHL.  Di  dalam  peraturan  itu,  disampaikan  pula  bahwa  sebulan  sebelum  UMP
              ditetapkan, Dewan Pengupahan provinsi harus menetapkan KHL provinsi dengan mengacu data
              BPS.


                                                          1204
   1200   1201   1202   1203   1204   1205   1206   1207   1208   1209   1210