Page 1405 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1405

Terkait  upah  minimum  kabupaten/kota  (UMK),  Taufik  mengatakan  rekomendasi  besarannya
              berada  dalam  kewenangan  kabupaten/kota.  Ia  pun  memerintahkan  agar  masing-masing  27
              daerah di Jabar melakukan survei UMK dan hasilnya disampaikan kepada gubernur.

              "Selanjutnya, terkait UMK ini ada waktu 21 hari. Silakan kabupaten/kota untuk melakukan survei
              dan yang lainnya. Kalau waktunya cukup ini tinggal direkomendasikan bupati/walikota ke pak
              gubernur," jelasnya.

              "Jadi harus ada dasarnya. Kalau dulu itu dari PP 78 2015 itu kan formulasi, UMP berjalan dikali
              penambahan  inflasi  dan  laju  pertumbuhan  ekonomi.  Khusus  untuk  2020,  lima  tahun  setelah
              ditetapkan, maka 2020 menggunakan survei KHL," cetus dia.

              Taufik  menjelaskan  pihaknya  baru  menerima  Peraturan  Menteri  Tenaga  Kerja  (Permenaker)
              18/2020 pada Oktober. Sehingga, Pemprov tidak mungkin menetapkan KHL saat ini.

              "Sebagaimana diketahui UMP itu batas terendah, otomatis UMP harus ditetapkan jadi UMK itu
              jangan sampai di bawah UMP," jelasnya.

              Taufik  memahami  kekhawatiran  buruh  yang tak  ingin jika  besaran  UMK  tak  naik  pada  2021
              mendatang. Tetapi, jika UMP dan UMK tetap mengacu pada PP 78, maka dikhawatirkan besaran
              upah turun karena laju ekonomi yang tengah mandek.

              "Saya  khawatir  turun  jika  mengacu  PP  78,  karena  ekonomi  minus.  Ini  sebenarnya  win-win
              solution, kecuali jika kabupaten/kota siap. Ini hampir semua provinsi menetapkan, karena tak
              ada waktu lagi," katanya.

              Sebelumnya, Ketua DPD Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronik Mesin Serikat Pekerja Seluruh
              Indonesia (FSP LEM SPSI) Jawa Barat Muhamad Sidarta mengatakan kondisi pandemi covid-19
              adalah upaya menggiring buruh agar memaklumi tak naiknya upah minimum 2021.
              "Pemerintah sudah sejak awal menggulirkan opini itu (tidak naik), menggiring supaya rakyat
              khususnya kaum buruh memaklumi kalau upah buruh 2021 tidak naik, akan disamakan dengan
              upah tahun 2020. Artinya, pemerintah tidak pro rakyat, tidak pro buruh sebenarnya masalah
              seperti ini bukan pertama kali, kita pernah krisis 98. Upah naik tidak masalah," imbuh Sidarta.

              Sidarta meyakini tahun depan belum tentu kondisi ekonomi tidak membaik. Hal itu berkaca dari
              pengalaman  sebelumnya  bahwa  ekonomi  Indonesia  masih  bisa  terselamatkan  tanpa  harus
              menunda kenaikan upah minimum bagi buruh.
              "Pemerintah tetap menaikkan upah buruh sebagai jaring pengaman, yaitu upah minimum baik
              UMP, UMK dan UMSK sebagai jaring pengamanan," tegasnya.

              Menurutnya, lewat surat edaran tak naiknya upah minimum 2021 akan berpengaruh pada daya
              beli masyarakat. Terutama pertumbuhan ekonomi secara nasional.

              "Kami menolak isi surat edaran tersebut, itu pasti akan memperlemah daya beli kaum buruh dan
              rakyat.  Karena  upah  buruh  dibelanjakan  untuk  pedagang,  ojek,  untuk  mengontrak  rumah
              dibelanjakan lagi kalau daya beli (buruh) melemah tentu masyarakat lain juga melemah," tandas
              Sidarta.










                                                          1404
   1400   1401   1402   1403   1404   1405   1406   1407   1408   1409   1410