Page 829 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 829

UPAH MININUM 2021 TAK NAIK, PEMERINTAH PERLU TAMBAH ANGGARAN
              BANSOS
              Pemerintah dinilai perlu menambah alokasi anggaran untuk pos perlindungan sosial pada 2021
              sejalan dengan upah minimum yang tidak naik tahun depan. Pertimbangan pemerintah untuk
              tidak menaikkan upah minimum adalah karena menurunnya kondisi perekonomian Indonesia
              serta ketenagakerjaan pada masa pandemi Covid-19.

              Penurunan  aktivitas  perekonomian  tersebut  tercermin  dari  pertumbuhan  ekonomi  kuartal
              II/2020  yang  tercatat  tumbuh  minus  5,32  persen.  Namun,  upah  yang  tidak  naik  pada  2021
              dikhawatirkan  akan  semakin  menekan  konsumsi  masyarakat  dan  akan  menghambat  proses
              pemulihan ekonomi nasional di 2021.

              Pasalnya, konsumsi memiliki peranan yang besar terhadap perekonomian atau PDB Indonesia.
              Di samping itu, pemerintah juga menargetkan tingkat inflasi tahun depan berada pada kisaran 3
              persen. Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan berdasarkan kalkulasi kenaikan UMP
              tahun 2021 (yakni PDB dari kuartal III/2020 hingga kuartal II/2020 ditambah dengan inflasi
              September 2020, maka seharusnya UMP meningkat sekitar 3,28 persen.

              Di sisi lain, faktor ketidakpastian dari pandemi Covid-19 yang belum berakhir tentunya berpotensi
              memengaruhi  kondisi  kegiatan  ekonomi  baik  dari  sisi  permintaan  maupun  produksi  yang
              selanjutnya akan berdampak pada kondisi arus kas perusahaan.

              Oleh karena itu, menuut Josua, pemerintah perlu meningkatkan anggaran untuk perlindungan
              sosial  meski  anggaran  untuk  tahun  2021  telah  ditetapkan,  agar  daya  beli  masyarakat  tidak
              semakin tertekan.

              "Meskipun  pemerintah  sudah  mengalokasikan  anggaran  perlindungan  sosial  dalam  program
              pemulihan ekonomi nasional [PEN] dalam APBN 2021, pemerintah juga perlu menambahkan
              alokasi  anggaran  untuk  pos  perlindungan  sosial  bagi  pekerja/buruh  yang  terkena  dampak
              pandemi," katanya kepada Bisnis, Rabu (28/10/2020).

              Selain itu, Josua mengatakan karena upah minimum tidak naik tahun depan, maka pemerintah
              perlu memastikan stabilitas harga pangan apalagi di tengah potensi La Nina.

              "Stabilitas harga pangan perlu sehingga tidak mendorong peningkatan harga-harga pangan yang
              signifikan sedemikian sehingga tidak mendorong penurunan daya beli masyarakat," jelasnya.

              Pada kesempatan berbeda, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf
              Rendy  Manilet  mengatakan  dampak  dari  upah  minimum  yang  tidak  naik  pada  2021  akan
              bergantung pada komponen bantuan pemerintah yang lain pada tahun depan. Yusuf menilai jika
              tidak  ada  bantuan  tambahan,  seperti  bantuan  langsung  tunai  (BLT),  bagi  kelas  pendapatan
              menengah ke bawah, maka upah minimum yang tidak naik berpotensi menekan daya beli.

              "Daya beli erat kaitannya dengan konsumsi rumah tangga [RT], maka potensi tertekannya daya
              beli karena upah yang tetap dan terbatasnya BLT, akan berdampak pada potensi pemulihan
              ekonomi karena konsumsi RT akan berjalan lebih lambat," jelasnya.

              Dia  menyampaikan,  keputusan  pemerintah  tersebut  sebenarnya  tidak  selaras  dengan  target
              pertumbuhan  ekonomi  yang  ditetapkan  pada  tahun  depan.  Jika  pertumbuhan  ekonomi
              diproyeksikan tumbuh, maka seharusnya upah minimum juga ikut meningkat.

              "Yang perlu dikritisi ialah kenapa upah tetap, sementara di tahun depan proyeksi pertumbuhan
              ekonomi  akan  berada  di  level  positif  4  sampai  5  persen.  Kedua  hal  ini  seharusnya  selaras,"
              tuturnya.


                                                           828
   824   825   826   827   828   829   830   831   832   833   834