Page 985 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 985

"Pemerintah sudah sejak awal menggulirkan dan menggiring opini itu supaya rakyat, khususnya
              kaum buruh memaklumi kalau upah buruh 2021 tidak naik, akan disamakan dengan upah tahun
              2020.  Artinya  apa?  Sudah  jelas,  pemerintah  tidak  prorakyat,  tidak  proburuh,"  ujarnya  saat
              ditemui Monumen Perjuangan, Selasa (27/10/2020).

              Sidarta mengatakan, keputusan Menaker terkait penetapan upah 2021, dinilai terlalu terburu-
              buru, padahal kondisi ekonomi tahun depan Indonesia belum tentu tidak membaik.

              Hal itu berkaca dari pengalaman tahun 1998, di mana saat itu krisis ekonomi dan inflasi anjlok
              seperti saat ini, tapi masih bisa terselamatkan tanpa harus menunda kenaikan upah minimum
              bagi buruh .

              "Sebenarnya, Indonesia pernah dicoba krisis keuangan dan inflasi minus seperti saat ini pada
              tahun 1998 lalu, tapi saat itu UMP, UMK, dan UMSK tetap naik sebagai jaring pengaman sosial.
              Tapi mengapa saat ini, (upah) bisa tidak naik, sebenarnya apa tujuan pemerintah, berpihak dan
              kepentingan pada siapa kebijakan Menaker itu disampaikan? Maka dengan tidak naiknya upah
              2021 akan berdampak pada kesejahteraan bukan hanya bagi buruh, tapi juga keluarganya yang
              merupakan rakyat kecil," ucapnya.

              Bahkan  menurutnya,  hal  ini  pun  akan  berpengaruh  pada  sektor  daya  beli  masyarakat,  yang
              buntutnya mengganggu pertumbuhan ekonomi secara nasional.
              Oleh karena itu, karena surat edaran tersebut bersifat imbauan yang tidak memiliki ikatan sanksi
              dalam payung hukumnya, maka pihaknya meminta agar gubernur tidak perlu mengikuti arahan
              Menaker  dan  tetap  berpihak  kepada  kaum  buruh,  karena  akan  berpengaruh  pada  kondisi
              ekonomi masyarakat yang dimpimpinnnya.

              "Kami menolak isi surat edaran tersebut, bukan hanya akan memperlemah daya beli kaum buruh
              tapi juga rakyat lainnya, karena upah yang diperoleh buruh itu dibelanjakan untuk pedagang,
              ojek, untuk mengontrak rumah, dan membeli kebutuhan lainnya. Maka, kembali kami ingatkan
              agar Gubernur (Jawa Barat) tidak perlu merespons surat edaran Menaker tersebut, karena kalau
              daya beli buruh dan masyarakat melemah, tentu pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional
              pun akan ikut melemah," katanya.


              Hal senada disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat FSP TSK SPSI Roy Jinto Ferianto.
              Menurutnya, dalam aksi teresebut sedianya ada lima tuntutan yang dibawa gabungan serikat
              pekerja dalam unjuk rasa itu.

              Di samping menolak tidak naiknya upah minimum 2021 dan mendesak ditetapkannya kenaikan
              UMP 2021 minimal delapan persen, buruh juga mendesak agar Omnibus Law UU Cipta Kerja
              segera dicabut dan mendesak Presiden mengeluarkan Perpu.

              "UU  Cipta  Kerja  itu  cacat  formal  dari  jumlah  halamannya,  isi,  dan  tujuan  pembentukannya,
              artinya menandakan bahwa terjadi kekacauan, dan DPR sebenarnya tidak siap saat melakukan
              pengesahan,  tapi  ada  desakan  pihak-pihak  yang  ingin  mencari  keuntungan  pribadi  maupun
              kelompoknya, dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Untuk itu, kami sampaikan mosi tidak
              percaya kepada DPR RI, khususnya fraksi yang menyetujui disahkannya Omnibus Law ini, serta
              pemerintah yang tidak mendukung kesejahteraan rakyat" ujarnya seusai orasi di depan Gedung
              Sate.

              Tuntutan  lainnya,  kata  Roy,  adalah  agar  gubernur  mengakomodasi  rekomendasi  UMSK  dari
              bupati untuk daerah Bogor, Bekasi, dan Karawang.





                                                           984
   980   981   982   983   984   985   986   987   988   989   990