Page 131 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 131

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           pembiayaannya  ditanggung oleh  mereka. Selain  itu ada pula  yang datang
           mewakafkan tanahnya untuk pesantren itu, atau kiainya. Adakalanya seorang       Bagi seorang kiai
           kiai tinggal duduk manis dan mengajar, sementara masalah biaya hidupnya,        yang tidak begitu
                                                                                          kaya demi menjaga
           biaya pembangunan dan operasional pesantren ditanggung oleh masyarakat         wibawanya sebagai
           desa di mana pesantren itu berada. Meskipun banyak pihak yang membantu,        kepala rumah tangga
           namun inisiatif awal untuk pembangunan atau perluasan pesantren, umumnya       dan demi kelestarian
           harus datang lebih dahulu dari sang kiai. Setelah itu, barulah bantuan masyarakat   pesantrennya, maka
           berdatangan.                                                                     ia harus mencari
                                                                                         penghasilan tambahan.
                                                                                          Oleh karena itu pula,
           Dana yang paling banyak dikeluarkan oleh keluarga kiai sebenarnya bukan         banyak kiai yang
           dalam masalah pembangunan masjid atau asrama/pondokan santri, melainkan          bekerja menjadi
           pembiayaan  kegiatan  rutin  pembelajaran  dan  biaya  pemeliharaan  pesantren   pegawai pemerintah
           dengan segala sarana dan prasaranya. Hal semacam ini tidak dapat begitu saja   atau ulama birokrat,
                                                                                           misalnya menjadi
           disandarkan kepada sumbangan masyarakat. Oleh karena itu bagi seorang         seorang penghulu atau
           kiai yang tidak begitu kaya demi menjaga wibawanya sebagai kepala rumah        anggota Raad Igama.
           tangga dan demi kelestarian pesantrennya, maka ia harus mencari penghasilan
           tambahan. Oleh karena itu pula, banyak kiai yang bekerja menjadi pegawai
           pemerintah atau ulama birokrat, misalnya menjadi seorang penghulu atau
           anggota Raad Igama. Kiai Raden Haji Uyek Abdullah dari pesantren Pabuaran
           adalah anggota  Raad Igama  dan sebagai imam  kaum  Sukabumi. Kiai Raden
           Haji Muhammad Zakaria dari Pesantren Cilame, juga anggota  Raad Igama
           Kabupaten Garut serta Tuanku Raja Keumala menjadi voorziter Raad Agama
           dengan gaji f.200 per bulan. 49

           Ada pula kiai yang menanamkan sebagian kekayaannya dalam perniagaan atau
           perdagangan. Kiai Haji Ahmad Sanusi misalnya, bekerja sama dengan Dasaad A.
           Musin, seorang pengusaha di Batavia. Mereka sepakat membentuk satu badan
           usaha yang diberi nama NV Handels Maatschapp Betalmal, dan Kiai Haji Ahmad
           Sanusi duduk sebagai salah satu komisarisnya.
                                                                                        Banyak para santri yang
           Di pesantren-pesantren tertentu yang mempunyai lahan pertanian yang luas,     diajak untuk mengelola
                                                                                         sawah atau kolam pak
           tidak jarang para santri dilibatkan dalam mengelola tanah pertaniannya.       kiai, kemudian menjadi
           Sepintas lalu, kelihatannya sang kiai memanfaatkan kepatuhan para santri untuk   ahli dalam bertani
           keuntungannya. Tetapi ternyata tujuannya tidak demikian. Banyak para santri    atau beternak ikan.
           yang diajak untuk mengelola sawah atau kolam pak kiai, kemudian menjadi       Walaupun akhirnya dia
           ahli dalam bertani atau beternak ikan. Walaupun akhirnya dia tidak berhasil   tidak berhasil menjadi
                                                                                            kiai atau ulama,
           menjadi kiai atau ulama, namun ketika terjun ke tengah-tengah masyarakat,      namun ketika terjun
           disamping pengetahuan agamanya, ia juga mempunyai keahlian tertentu yang        ke tengah-tengah
           dapat dikembangkannya.                                                        masyarakat, disamping
                                                                                             pengetahuan
           Memang tidak sedikit kiai yang mempunyai keahlian sampingan seperti keahlian    agamanya, ia juga
           dalam  bidang  bisnis  perdagangan atau  pertanian.  Keahliannya itu  seringkali   mempunyai keahlian
                                                                                          tertentu yang dapat
           dimanfaatkan untuk kepentingan “masa depan” santrinya dan penduduk desa         dikembangkannya.
           di sekitarnya. Di Sukabumi misalnya, beberapa kiai yang bergabung dalam






                                                                                                 115
   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135   136