Page 126 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 126
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
pembaru (mujaddid) atau reformis Islam yang di beberapa daerah disebut kaum
muda. Para pembaru itu mengatakan bahwa agama Islam tidak menyuruh para
kiai mengajari para santri selama sepuluh tahun untuk Nahu, dan sepuluh tahun
untuk fikih, sementara iman tauhidnya, tidak sempurna. Tidak sedikit pengurus
pesantren yang tersinggung oleh kritikan serta sepak terjang para mujaddid.
Namun beberapa pesantren justru menerimanya dan mulai melakuan perbaikan
terhadap sistem pendidikan yang telah mentradisi sebelumnya. Di Aceh
Darussalam misalnya, pada tahun 1915, Tuanku Raja Keumala meminta izin
Gubernur Swaart untuk mendirikan madrasah di lingkungan dayah asuhannya.
Madrasah yang dimaksud oleh Tuanku Raja Keumala tiada lain adalah sistem
madrasah yang dilihatnya di Timur Tengah. Permohonannya dikabulkan oleh
Swaart, bahkan ditawari bantuan finansial untuk pengelolaan madrasah
tersebut. Namun tawaran itu ditolaknya. Sebaliknya justru ia minta izin kepada
gubernur untuk mengedarkan permohonan derma kepada masyarakat Aceh,
yang kemudian disetujui oleh gubernur. Tindakan Tuanku Raja Keumala
ternyata mendapat sambutan masyarakat, yang terbukti dengan mengalirnya
dana bantuan sehingga pembangunan madrasah yang direncanakannya dapat
terealisir. Karena itu ia merasa bangga karena dapat mengatakan bahwa semua
pembangunan fasilitas pendidikan di dayah-nya, sepenuhnya berasal dari
masyarakat Aceh. 42
Dalam kurun waktu yang relatif sama, Kiai Haji Ahmad Sanusi juga mendirikan
madrasah di lingkungan pesantrennya yang terletak di Desa Genteng, Sukabumi.
Di wilayah Priangan Barat dapat dikatakan Pesantren Genteng merupakan
pesantren yang pertama kali menggunakan kurikulum serta sistem madrasah
dengan masa pendidikan selama 6 tahun. Namun berbeda dengan Tuanku Raja
Keumala yang mendapat tawaran bantuan dana dari gubernur Belanda, Haji
Ahmad Sanusi justru sebaliknya. Ia terpaksa harus meninggalkan madrasah
yang belum selesai pembangunannya karena ditangkap aparatur pemerintah
setempat dan dimasukkan ke dalam penjara dengan tuduhan terlibat dalam
pemberontakan Menes, Banten. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, namun
kiai ini tetap tidak boleh kembali ke pesantrennya. Ia diasingkan ke Batavia
Haji Abdul Halim Centrum (Jakarta Pusat). Walaupun demikian ide-ide pembaruannya dalam
dari Majalengka, pendidikan Islam masih tetap berjalan melalui oraganisasi yang dibentuknya
telah mendirikan bersama kiai dan ulama dari wilayah Priangan Barat dan Bogor, yang diberi nama
perguruan Islam Santi
Asrama dengan sistem Al-Ittihadiyatul Islamiyyah (AII). Di bawah koordinasi organisasi itu dibangun
kelas, dan dalam sekolah-sekolah agama yang dalam kurikulumnya dimasukkan mata pelajaran
kurikulumnya telah umum. Sekolah itu kemudian dikenal dengan nama AII-School atau HIS met
memasukkan materi Quran. 43
pelajaran umum seperti
bahasa Inggris, bahsa
Belanda dan Ilmu Dalam kurun waktu yang lebih awal dari Kiai Haji Ahmad Sanusi, Haji Abdul
Berhitung. Halim dari Majalengka, telah mendirikan perguruan Islam Santi Asrama dengan
sistem kelas, dan dalam kurikulumnya telah memasukkan materi pelajaran
umum seperti bahasa Inggris, bahasa Belanda dan Ilmu Berhitung. Deliar Noer
memasukkan kiai Majalengka ini ke dalam kelompok Islam Modernis atau Islam
110

