Page 125 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 125
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Suasana belajar mengaji di
Pondok Pesantren AL Khairat,
Kampus Madinatul Ilmi Dolo Di
Sulawesi Tengah
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
itu adalah bulan Ramadhan (puasa). Dalam bulan itu sering dipergunakan baik
oleh kiai, maupun para santrinya untuk masa perenungan atau kegiatan di luar
kegiatan rutin, seperti latihan diskusi, bertabligh, berdakwah, yang tidak jarang
dengan cara melibatkan masyarakat sekitar dan ulama dari luar sebagai peserta
atau penanggap. Arena semacam itu sekaligus dimaksudkan untuk menguji
tingkat pengetahuan dan pemahaman para santri terhadap pelajaran yang telah
diterimanya.
Jika ditinjau dari sudut pengembangan intelektual, kondisi pesantren semacam
itu cenderung lebih menguntungkan bagi orang-orang cerdas, rajin dan tekun,
seperti halnya para santri kelana. Karena mereka yang ingin sukses harus
bersedia mengorbankan waktunya untuk bermain menjadi waktu tambahan
untuk belajar, antara lain menambah pelajaran dengan sistem sorogan.
Kebebasan yang ada di lingkungan pesantren, secara hakiki justru meminta
para santri untuk mendisiplinkan dirinya sendiri jika dia ingin sukses. Bagi
santri yang lalai dan tidak terlalu cerdas, mungkin saja setelah bertahun-tahun
bermukim di pesantren, pengetahuan agamanya tidak jauh berbeda kondisinya
dengan sewaktu awal masuk pesantren terebut. Seperti dike mukakan Mahmud
Junus, banyak para lulusan pesantren yang kemampuannya hanya sekadar bisa
memasak dan membantu orang tuanya membelikan minyak untuk memasak.
Menjelang akhir abad ke-19, sistem pendidikan di pesantren-pesantren tradisional
di kepulauan Indonesia mendapat semacam gugatan dan kritikan pedas daripada
109

