Page 123 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 123

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           antara lain yang dikritik pedas oleh kaum Islam reformis pada dekade 1920-an
           dan 1930-an. Kaum Islam reformis menganggap lembaga pesantren sebagai
           lembaga pembodohan ummat, karena hanya menekankan kepatuhan secara
           membuta  (taqlid) tanpa diberi keleluasaan untuk mempelajari agama pada
           sumbernya yang utama yang Quran dan Sunnah.Bahkan ada yang menyebutkan
           bahwa banyak santri yang telah belajar bertahun-tahun, hasilnya hanya sekedar
           bisa ngeliwet tanpa gosong.


           Dalam praktiknya gambaran yang diberikan sebagian kaum Islam reformis           Tidak sedikit pula
           tentang kehidupan di pesantren tidaklah seburuk itu. Memang ada beberapa        kiai yang bersikap
           kiai yang ingin diperlakukan sebagai seorang wali (atau dewa) oleh para santri   egalitarian alias tidak
           dan masyarakat lingkungannya. Namun tidak sedikit pula kiai yang bersikap       mau diperlakukan
           egalitarian alias tidak mau diperlakukan secara berlebihan, terutama dikultuskan,   secara berlebihan,
           karena pengkultusan dinilainya akan mengarah kepada syirik. Karena itu,       terutama dikultuskan,
                                                                                          karena pengkultusan
           sebelum meninggal Haji Ahmad Sanusi telah berwasiat kepada keluarganya,          dinilainya akan
           agar beberapa karyanya dimusnahkan, karena melihat gejala masyarakat mulai      mengarah kepada
           memujanya. 41                                                                        syirik.

           Ada satu cerita yang cukup popular di kalangan santri di wilayah Priangan
           Barat pada sekitar tahun 1920-an, yang mencerminkan bahwa mengkritik kiai
           bukan suatu tindakan yang diharamkan. Cerita itu, berkisah tentang seorang
           santri kelana yang baru saja menjadi santri pada sebuah pesantren. Ia merasa
           heran melihat kebiasaan kiai dan santrinya, khususnya dalam melakukan salat,
           baik yang fardu maupun yang sunnah. Pada waktu melaksanakan salat selalu
           menyelipkan gayung di pinggangnya. Sepengetahuannya, tidak ada ayat
           Quran atau Hadist yang memerintahkan ummat Muslim harus membawa-
           bawa gayung kalau hendak mendirikan salat. Karena itu lalu ia menghadap
           sang kiai dan menanyakan tentang hal itu. Lalu sang kiai menerangkannya
           kebiasaan seperti itu dilakukan atas dasar sebuah hadist yang berbunyi sebagai
           berikut: “La Tasihu Salata illa bil magrifah”. Setelah itu sang kiai menyodorkan
           sebuah kitab yang betul-betul telah kuning warna kertasnya. Sejenak santri
           kelana mengamati tulisan di atas kertas yang telah kuning. Dengan mimik yang
           terheran-heran, sejenak ia manggut-manggut. Namun tak lama kemudian ia
           kaget dan membawa kitab itu ke dekat lampu yang sangat terang. Ia pun kaget
           dan langsung menyodorkan kembali kitab itu kepada sang kiai sambil berkata,
           “maaf kiai, ternyata itu bukan “ghin”, tapi ain, yang kebetulan di atasnya
           ada bolongnya dimakan rayap. Jadi hadist itu seharusnya dibaca bil ma’rifah.
           Jadi, Tidak perlu membawa gayung, melainkan harus disertai dengan ilmunya.
           Setelah mendengar penjelasan dan memeriksa kembali kitabnya dengan teliti,
           sang kiai pun beristigfar dan mengucapkan terimakasih kepada santrinya itu.
           Bahkan tak lama kemudian sang kiai mengangkat santri kelana itu menjadi
           mantunya. Meskipun cerita itu hanya “sejarah lisan” yang hidup di beberapa
           pesantren tertentu di Priangan Barat, namun di dalamnya tercermin bahwa








                                                                                                 107
   118   119   120   121   122   123   124   125   126   127   128