Page 121 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 121

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Para pejabat Belanda sendiri sebenarnya jaga masih bingung untuk memutuskan
           apakah ajaran tarekat itu perlu untuk dilarang diajarkan pada pesantren-
           pesantren di Hindia Belanda, mengingat berdasarkan  laporan-laporan yang ada
           disimpulkan bahwa ajaran tarekat pada dasarnya hanyalah ajaran tambahan
           yang tidak memiliki sumber yang sahih dalam Quran dan Hadis sahih.  Namun
                                                                            39
           tidak ada alasan yang kuat untuk melarangnya, walaupun laporan-laporan
           yang menunjukkan adanya kerusuhan dan pemberontakan yang melibatkan
           para pengikut tarekat, terutama Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, seperti
           pemberontakan suku Sasak di Lombok tahun 1891, dan pemberontakan Kiai
           Kasan Mukmin dari Sidoharjo tahun 1903. Apalagi setelah dekade 1910-an
           gerakan pemberontakan yang melibatkan satu ajaran tarekat jarang terjadi lagi
           dibandingan dengan periode-periode sebelumnya. 40












           Metode Pembelajaran





           Metode pengajaran di pesantren, untuk bentuk-bentuk tertentu hampir sama
           dengan yang diselenggarakan pada pengajian  di surau atau di langgar.  Sistem   Sistem menghafal teks-
           menghafal teks-teks berbahasa Arab, termasuk menghafal surat-surat Al-Quran    teks berbahasa Arab,
           tetap dipertahankan. Cara penyampaian materi pelajaran dilaksanakan secara     termasuk menghafal
                                                                                          surat-surat Al-Quran
           berkelompok dalam satu lingkaran yang disebut sistem  halaqah, tidak jauh      tetap dipertahankan.
           berbeda dengan kelompok pengajian di langgar. Di Jawa Tengah dan Timur          Cara penyampaian
           sistem halaqah ini dikenal dengan nama bandongan, sementara di Jawa Barat        materi pelajaran
           dikenal dengan sebutan bandungan atau balagan. Seperti telah disinggung di     dilaksanakan secara
           atas, materi pelajaran pada dasarnya telah tersedia dalam bentuk teks, namun   berkelompok dalam
                                                                                           satu lingkaran yang
           dalam  praktiknya  pembacaan  oleh  kiai  dinilai  lebih  penting  dan  mempunyai   disebut sistem halaqah.
           makna tersendiri. Dalam lingkaran itu sang kiai membacakan dan menjelaskan
           materi pelajaran secara panjang lebar. Kadangkala kiai menyuruh salah seorang
           santrinya untuk membacakan materi pelajaran itu terlebih dahulu, setelah itu
           sang kiai menjelaskannya. Di tengah-tengah proses pembelajaran kadangkala
           kiai memberi kesempatan kepada para santri untuk mengajukan pertanyaan.
           Namun secara umum, kesempatan untuk bertanya baru diberikan setelah
           pembacaan dan penjelasan kiai mengenai isi pelajaran itu usai.  Di bagian akhir
           ini kiai akan bertanya, apakah semua penjelasannya sudah dimengerti atau
           masih ada yang kurang jelas? Dan biasanya jarang ada santri yang bertanya
           karena alasan-alasan tertentu.








                                                                                                 105
   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126