Page 116 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 116
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Sebenarnya perhatian penguasa Belanda terhadap agama Islam di kepulauan
Salah seorang haji yang Indonesia sudah ada sejak masa VOC, khususnya perhatian terhadap haji dan
pernah dikarantina dan tarekat. Para penguasa VOC yang telah “mempelajari” politik bisnis perdagangan
kemudian ditahan oleh dari pendahulunya, Portugis, melihat misi keagamaan telah menjadi salah satu
VOC adalah, Syaikh
Yusuf Abul Mahasin faktor penghambat kesuksesan bisnisnya.Oleh karena itu, demi kelancaran
Tajul Khalwati Al- bisnisnya, VOC memilih netral agama dan tidak mau ikut-ikutan menjadi
Makasari Al-Bantani pendekar Perang Salib seperti Portugis dan Spanyol. Walaupun mereka juga
yang diberi gelar oleh banyak terlibat dalam peperangan melawan kesultanan atau kerajaan pribumi,
para pengikutnya dari hal itu terjadi bukan karena dictum Perang Salib, melainkan sebagai konsekuensi
Gowa dengan sebutan
“Tuanta Salamaka ri dari upayanya merebut hegemoni agar monopoli perdagangannya tetap terjaga.
Gowa”.
Adanya kebijakan netral terhadap agama, tidak berarti VOC menjadi tak
peduli terhadap agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduk di
Kepulauan Indonesia (yang disebutnya Oost Indisch). Justru sebaliknya, VOC
sangat sangat peduli terhadap perkembangan Islam yang dapat dilihat antara
lain dari kebijakannya terhadap haji. Pada awal abad ke-18 VOC mengharuskan
semua jemaah haji yang tiba di Batavia dari tanah suci Makkah, harus masuk
karantina terlebih dahulu sebelum kembali ke kampungnya masing-masing.
Bahkan beberapa Jemaah ditahannya jika dinilai berpotensi membahayakan
kekuasaan VOC. Kebijakannya itu diambil setelah penguasa VOC mendapat
laporan bahwa di sekitar Batavia sampai ke wilayah Priangan Barat, sering terjadi
perlawanan atau pembangkangan yang dilakukan para petani pribumi terhadap
kebijakan VOC seperti kewajiban membayar pajak dan herendiensten. Mereka
membangkang karena dihasut oleh para haji atau “Pendeta Moor” atau “Lebe”
yang bertitel haji. Misalnya perlawanan petani di wilayah afdeling Sukabumi
Selatan tahun 1710 dan 1713 yang dipimpin oleh orang-orang yang bertitel
haji. Salah seorang haji yang pernah dikarantina dan kemudian ditahan oleh
VOC adalah, Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani
yang diberi gelar oleh para pengikutnya dari Gowa dengan sebutan “Tuanta
Salamaka ri Gowa”. VOC telah mencatat, Syaikh Yusuf pernah menjadi mufti
pada Kesultanan Banten dan karena itu, setelah Kesultanan Banten dapat
dikalahkan oleh VOC pada akhir abad ke-17, Syaikh Yusuf ikut ditangkap dan
dibuang ke Cape Town, Afrika Selatan. karena takut pengaruh ulama ini, dapat
mendatangkan persoalan baru yang merugikan kewibawaan VOC.
Sikap VOC berubah manakala tahu bahwa jemaah haji yang pergi ke kota
Mekkah dan pulang kembali Ke Indonesia (Hindia Timur), jumlahnya sangat
banyak. Kongsi dagang itu kemudian memutuskan untuk memonopoli
angkutan jemaah haji ke dan dari tanah suci Mekkah. Mereka menetapkan
secara sepihak, bahwa semua penduduk Hindia Timur yang akan ke tanah
suci Mekkah atau sebaliknya, harus menggunakan kapal-kapal laut milik VOC.
Yang dimaksudkan Hindia Timur oleh VOC mencakup hampir semua Kepulauan
Indonesia, walaupun kekuasaan kongsi dagang itu belum seluas itu. Adanya
kebijakan angkutan itu tidak berarti pengawasan VOC terhadap haji menjadi
kendur.
30
100

