Page 115 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 115

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Mu’tazilah, ulama Syi’ah dan juga karya para ulama penganut paham wahdatul
           wujud seperti Ibnu al Araby, Hamzah Fansury dan Syamsuddin Sumatrany. Fakta
           ini menunjukkan bahwa Teungku Cik Tanoh Abey memberikan kebebasan
           kepada santrinya untuk mempelajari kitab-kitab yang berisi pemahaman yang
           berbeda dengan paham utama yang diusung oleh  dayah atau pesantren
           tersebut. 27


           Kondisi ini berbeda dengan pesantren yang ada di wilayah Palembang, yang justru
           mengambil sikap berseberangan dengan kebijakan pengelola Dayah Tanoh Abey.
           Mereka menyatakan karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrany sebagai
           ajaran yang menyesatkan, sehingga para santri dilarang membacanya. Bahkan
           Sultan Palembang telah meminta kepada Abdul Al-Shamad al-Palimbani, ulama
           ahli tassawuf, untuk menulis satu risalah yang berisi tolakan terhadap ajaran
           sufisme wahdatul wujud dari kedua ulama Aceh itu. Dengan demikian para
           santri tahu persis bahayanya ajaran wahdatul wujud. Permintaan itu dikabulkan
           dan terbitlah risalah Tuhfah ar-Ragibin fi Bayan Haqiqat al-Mukmin. Di samping
           itu Abdul Al-Shamad juga menulis dua kitab tassawuf dalam bahasa Melayu,
           yaitu Hidayah Al-Salikin dan Sair Al-Salikin.
                                                   28










           Haji dan Tarekat
                                                                                          Banyak pakar sejarah
                                                                                          berpendapat bahwa
                                                                                         salah satu faktor yang
                                                                                           ikut mempercepat
                                                                                           proses Islamisasi di
           Banyak pakar sejarah berpendapat bahwa salah satu faktor yang ikut             kepulauan Indonesia
           mempercepat proses Islamisasi di kepulauan Indonesia adalah ajaran tasawuf,   adalah ajaran tasawuf,
           yang salah satu bentuk ungkapan dari ajaran itu adalah tarekat. Mengapa       yang salah satu bentuk
           ajaran tasawuf atau tarekat menjadi salah satu faktor yang mempermudah         ungkapan dari ajaran
           proses Islamisasi, menurut beberapa pakar sejarah Islam, karena ajaran dan      itu adalah tarekat...
           praktik tasawuf mempunyai banyak persamaan dengan ajaran atau praktik-          karena ajaran dan
                                                                                            praktik tasawuf
           praktik keagamaan yang telah membudaya di kalangan masyarakat Indonesia.       mempunyai banyak
           Karena itu Martin van Bruinessen merasa heran mengapa sampai dangan akhir       persamaan dengan
           abad kesembilan belas, penguasa kolonial Belanda hanya sedikit mengetahui      ajaran atau praktik-
           tentang kehidupan beragama para kawulanya. Mereka baru membuka mata             praktik keagamaan
           terhadap Islam bila ideologi agama ini telah ikut memainkan peranan dalam     yang telah membudaya
                                                                                         di kalangan masyarakat
           pemberontakan seperti yang terlihat dalam Pemberontakan Diponogoro tahun           Indonesia.
           1825-1830. 29









                                                                                                 99
   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120